November 27, 2011

Lirik Kontroversi Minggu Ini: "Ku tak Pandang dari Greja Mana"



Ku tak pandang dari greja mana
Asal kau berdiri di atas FirmanNya
Kalau hatimu sperti hatiku
Kaulah saudara dan saudariku


Kenapa Kontroversi?
Kayaknya sepintas agak-agak interdenominasi, tapi menurut kritik: "Kalau hatimu sperti hatiku"? Siapa aku sampai hatimu harus sperti hatiku? Kalau aku menikmati Allah lewat gaya yang lompat-lompat bersemangat seperti teman-teman karismatik, apakah aku harus berubah jadi tenang dan khusyuk seperti teman-teman injili?

Janganlah kita sampai jatuh dalam menghakimi hati orang dan penyembahan yang keluar dari hatinya menurut standar hatiku sendiri, namun haruslah menurut standar yang berkenan dan layak kepada Tuhan. Seperti yang ditulis di Roma 12. (Ayo dibaca dulu! Hehehe!) Intinya adalah hati kita semua harus menyerupai hati Kristus. Itu jauh lebih utama.

Solusi:

Yah, kalo sampe dipikirkan sedetil itu, lumayan make sense juga, sih. Mendingan ganti lagu saja, deh.
"Aku gereja, Kaupun Gereja. Kita sama-sama Gereja. Dan pengikut Yesus di seluruh dunia. Kita sama-sama gereja. Gereja bukanlah gedungnya dan bukan pula menaranya. Bukalah pintunya, lihat di dalamnya, gereja adalah orangnya!"
Lagu yang sama-sama ceria dan jauh lebih interdenominasi. :)

_______________________________________________________________________________
Kekristenan punya banyak lagu. Sejak Mazmur zaman Daud, Hymne zaman Fanny Crosby sampai Pujian di Zaman Sydney Mohede ini. Bersyukurlah bahwa Allah banyak menginspirasikan lagu-lagu bagus untuk manusia pakai memuji dan menyembah Dia. Tapi, namanya manusia dengan segala keterbatasan kita dalam menyusun kata-kata, sering didapati lirik lagu pujian yang salah kaprah atau konteksnya jadi agak ngaco.


Nah, berikut ini beberapa lagu yang liriknya agak kontroversi menurut beberapa pembicara yang pernah saya dengar atau pun berdasarkan apa yang sejauh ini saya pahami Alkitab katakan. Seri ini sama sekali tidak bermaksud untuk menghakimi sang penulis lagu, tapi untuk kita menghindari kesalahpahaman dan belajar kritis yang bertanggung jawab pula atas apa yang mulut kita nyanyikan. Ada diskusi, teman-teman? Silakan comment dan masukannya yuk! Dilarang menjelek-jelekkan denominasi lain yah :)

1 comments:

Charles mengatakan...

Setuju dengan pendapat Heri! "Kalau hatimu seperti hatiku", terkesannya egois sekali ya, meskipun mungkin itu bukan maksud sebenarnya dari pencipta lagunya, tetapi mengundang salah paham karena keterbatasan bahasa (saya juga tidak tahu, harus tanya pencipta lagunya baru tahu, hehe).

Untuk mengundang diskusi nih... Haruskah kita seiman terlebih dahulu baru bisa menjadi seorang saudara? Amsal 17:17 berkata "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran." :)