• GELOMBANG KECONGKAKKAN

    "Siapa yang bisa menebas tangan karena benci akan kelingking kemudian melanjutkan hidup seperti tak pernah ada peristiwa terjadi?"
  • MEMBINCANGKAN RASA

    "Ketika lapar dan nafsu bersatu, siapa lagi yang kuasa membincangkan selera?"
  • BERSYUKUR

    "Masa depan menyimpan misteri yang tidak terselami. Rasa penasaran yang besar tidak mampu menembusnya. "
  • MENGEJAR KETERTINGGALAN

    "Dalam ketertinggalan, kita menyadari bahwa tak selamanya hidup ini sepenuhnya dalam kendali kita."


O Betapa indahnya dan betapa eloknya
Bila saudara seiman hidup dalam kesatuan
Bak urapan di kepala Harun, yang ke janggut dan jubahnya turun
Seperti embun yang dari Hermon mengalir ke bukit Sion
Kesana t'lah dip'rintahkan Tuhan agar berkat-berkat dicurahkan
Kehidupan untuk selamanya, O betapa indahnya!

Kenapa Kontroversi?

Lagu ini kerapkali dibawakan dalam melodi dangdut untuk ibadah bertajukkan fellowship atau kesatuan berjemaat. Lagunya riang, chord minornya banyak, didukung pula dengan beatnya yang asik. Akibatnya, beberapa MC centil jadi suka lupa diri dan tak kuasa menahan hasrat dangdut-nya. Sambil 'memaksa' para jemaat, mereka mengancam "Hayo, semua jempolnya diangkat! Kalo nggak, kita ulangi lagu ini dari awal lagi!". Lalu jemaat yang malang itu terpaksa mengangkat jempol dan berjoged dengan pasrah. Pokoknya seru, deh! :)

Oke, lalu apa yang menyebabkan lagu yang dikutip dari Mazmur 133 tentang nyanyian Ziarah Israel ini kontroversi? Bukan tentang dangdut-nya atau MC yang suka maksa itu, tapi penggunaan imbuhan yang keliru. "Bak urapan di kepala Harun, yang ke janggut dan jubahnya turun". Jubah yang turun! Eww... Pornografi dan pornoaksi dalam ibadah, nih. Hehehe!

Solusi:

Dalam beberapa training MC dan Pemusik yang pernah saya hadiri, lagu ini sering jadi contoh mengenai "Singing with Understanding". Jangan sampai kita terbuai dengan asiknya melodi plus paket joged-joged lalu mengabaikan makna lirik yang kita nyanyikan. Yah, paling tinggal dikoreksi saja mengenai pemilihan dan penempatan imbuhan yang benar, toh. Simple! Beberapa gereja atau persekutuan yang menggunakan lagu ini, mengganti liriknya menjadi 2 versi. Versi pertama: "Bak urapan di kepala Harun, yang ke janggut dan ke jubah turun" atau versi berikutnya: "Bak urapan di kepala Harun, yang ke janggut dan turun ke jubah". But somehow, saya lebih suka versi yang pertama karena masih berima: "Harun" dan "Turun", kalo "Harun" dan "Jubah", kedengarannya kurang berima, kurang sedap, dan kurang melayu. So, ayo jempolnya diangkat, pinggul digeol, kita dangdutan lagi! :)
_______________________________________________________________________________
Kekristenan punya banyak lagu. Sejak Mazmur zaman Daud, Hymne zaman Fanny Crosby sampai Pujian di Zaman Sydney Mohede ini. Bersyukurlah bahwa Allah banyak menginspirasikan lagu-lagu bagus untuk manusia pakai memuji dan menyembah Dia. Tapi, namanya manusia dengan segala keterbatasan kita dalam menyusun kata-kata, sering didapati lirik lagu pujian yang salah kaprah atau konteksnya jadi agak ngaco.

Nah, berikut ini beberapa lagu yang liriknya agak kontroversi menurut beberapa pembicara yang pernah saya dengar atau pun berdasarkan apa yang sejauh ini saya pahami Alkitab katakan. Seri ini sama sekali tidak bermaksud untuk menghakimi sang penulis lagu, tapi untuk kita menghindari kesalahpahaman dan belajar kritis yang bertanggung jawab pula atas apa yang mulut kita nyanyikan. Ada diskusi, teman-teman? Silakan comment dan masukannya yuk! Dilarang menjelek-jelekkan denominasi lain yah :)