Saya mengagumi Addie MS. Seorang yang luar biasa berbakat dan berprestasi, kepala keluarga yang bijak - yang anggota-anggotanya berkecimpung di dunia musik pula, pun dibarengi dengan karakter yang rendah hati dan bersahaja. Siapa yang belum pernah mendengar aransemen simfonik Indonesia Raya karya beliau bersama Victorian Philharmonic Orchestra, yang selalu dikumandangkan sepanjang peringatan kemerdekaan Indonesia?
Album The Sounds of Indonesia adalah project teranyar dari beliau bersama salah satu maskapai penerbangan terbesar nasional. Berisikan 25 lagu daerah dan nasional yang apik dan epik, nggak ngebosenin diputar berulang-ulang menemani mencari inspirasi atau sekedar teman perjalanan di dalam angkutan. Sebelumnya album ini hanya eksklusif diperdengarkan hanya di dalam pesawat, namun belakangan sudah rilis untuk publik. Kali pertama saya mendengar sepotong alunan Manuk Dadali dan Bungong Jeumpa adalah ketika take off dan landing di South Korea 2012 lalu. Beberapa bulan kemudian, dibalut dengan hardcover yang rapi, album ini nongol di toko buku dan di toko CD di beberapa Mall. Hasrat memiliki yang menggebu-gebu diurungkan ketika menatap bagian belakang barcode harga yang terpampang; Dengan asa yang kempis, saya mengembalikan album keren ini ke rak display singgasananya. Ah... tak ramah bagi kantung mahasiswa! Sampai ketika mengetahui bahwa album ini dijajakan pula via iTunes dan melirik kisaran harga yang terjangkau. Masterpiece ini memang layak dikoleksi.
Memang melalui akun social medianya, beliau bertutur bahwa lagu-lagu daerah kesayangan kita tersebut digubah dengan versi simfoni orkestra bareng City of Prague Phillharmonic Orchestra, namun tetap saja telinga ini rasanya protes sejenak. Kenapa nyaris nggak ada elemen alat musik tradisional macam gondang, angklung atau suling seperti aransemen musik tradisional pada umumnya? Rasanya seperti separuh muka dipermak dengan absennya musik etnik. Tapi tunggu dulu, setelah mendengarkan dengan saksama, saya lalu sangat menikmati nuansa centil nan genitnya lagu Ayo Mama, megahnya aliran tenang Bengawan Solo, semilir sejuknya Anging Mamiri, keceriaan nostalgia permainan masa kecil Cublak-Cublak Suweng. dan masih banyak lagi. Elemen etnik boleh saja tak terdengar menyeruak kental, namun saya belajar justru spirit yang terkandung di dalam lagu itu yang tak dilupakan. Nggak heran kalau lagu Tanah Airku ciptaan Ibu Soed yang dulu ada di Simfoni Negeriku, dibawakan ulang sebagai pamungkas. Ibaratnya seperti mendengar soundtrack dari komposer film kenamaan macam Joe Hisaishi, Hans Zimmer, atau John William, mendengarkan album ini sungguh membangkitkan imajinasi dan menggugah rasa sayang teramat sangat buat negeri ini. Tak pelak kalau dunia pun mengapresiasi karya seni ini dengan kenyataan bertenggernya album ini sebagai iTunes Top Chart.
Haru rasanya mengingat bahwa di bangsa ini masih ada orang-orang yang cerdas macam Addie MS, yang dengan bangga mengemban tanggung jawab mengelola Indonesia yang teramat kaya sumber daya dan budaya. Kemudian saya menyelesaikan tulisan ini sambil mendengarkan lagi track favorit saya di album ini, Manuk Dadali - burung garuda, sambil berharap suatu saat bangsa ini kembali seperti terjemahan liriknya: mengangkasa terbang melesat tinggi jauh di awang-awang, merentang sayap tegak tanpa ragu. Gagah perkasa tanpa tandingan, dihormati dan disegani oleh sesama.
Haru rasanya mengingat bahwa di bangsa ini masih ada orang-orang yang cerdas macam Addie MS, yang dengan bangga mengemban tanggung jawab mengelola Indonesia yang teramat kaya sumber daya dan budaya. Kemudian saya menyelesaikan tulisan ini sambil mendengarkan lagi track favorit saya di album ini, Manuk Dadali - burung garuda, sambil berharap suatu saat bangsa ini kembali seperti terjemahan liriknya: mengangkasa terbang melesat tinggi jauh di awang-awang, merentang sayap tegak tanpa ragu. Gagah perkasa tanpa tandingan, dihormati dan disegani oleh sesama.
終わりに,兄弟たち,何であれ真実なこと,何であれまじめなこと,何であれ義にかなっていること,何であれ貞潔なこと,何であれ愛すべきこと,何であれよく言われること,また何であれ徳とされることや称賛すべきことがあれば,そうしたことを考え続けなさい。
Akhirnya, Saudara-saudara, isilah pikiranmu dengan hal-hal bernilai, yang patut dipuji, yaitu hal-hal yang benar, yang terhormat, yang adil, murni, manis, dan baik.
One of my favorite Carol is "Little Drummer Boy". The lyric tells a story about a poor boy that had nothing as a gift to honour the King that just born, Jesus. So, he played his drum and sing for Him, as it is the best that he can offer. Although indeed the story is just fictional tale, (Yes, you can't find any verses in the Bible tells about the drummer boy. Hehehe!). This song captures the spirit of Christmas: giving all the best gift that we have to Jesus. Our voice, our talent, our heart, our life, or in short everything we are. Christmas is a day to celebrate that God who have first gave Himself as a present to save us from our sins.
The card is designed for Music and Art Department of PO Binus. I wrote each name and post them to their own Facebook wall. The tin design is based on one famous brand of cookie. Well, who had never take their mother cookie tin or bucket and pretend as a drummer on childhood. Don't forget the pencil or spoon or any stick that we can find. A super prescious moment for ourself, that only ourself who understand what song we played without any melody or just a simple humming. So, in this Christmas, have you offer God your best that you can give? A rhythm to invite Him as a Saviour in your heart or maybe a simple beat note of repentance? I think, HE also will smile at you, too! :)

Dulu ada teman yang nanya, "Kok kalau kamu ngurus kepanitiaan, pasti publikasinya pake foto-foto model sih?". Yaah, gimana yah? Hehehe! Firstly, Karena pada dasarnya narsis itu menyenangkan! Saya tahu, setiap orang akan senang melihat wajahnya terpampang di media. Dengan melibatkan lebih banyak orang untuk jadi model, akan semakin banyak sahabat yang merasa dilibatkan dan berkontribusi dengan cara yang menyenangkan dalam pelayanan atau event tersebut.
Kedua, Ini akan jadi media yang benar-benar penuh personal touch. Sebuah media atau event dari kami, lewat kami, untuk kami, semua oleh kasih karuniaNya. Hehe!
Dan yang terakhir, foto tetap akan jadi kenangan yang long-lasting. Ada terlalu banyak kisah dalam sebuah gambar. Banyak tawa dan kesenangan selama berkumpul bersama orang-orang yang kita sayangi. Momen-momen seperti ini, tidak akan pernah bisa terulang lagi. Ya! Saya senang memakai model teman-teman saya untuk publikasi. Saya hendak menCapture semangat dan kehangatan ini untuk dikenang sampai selama mungkin. =)
Talenta Magazine#03 "CelebrACTion" will be release on 25th PO Binus Anniversary GROWING IN HIS GRACE Saturday, March 26, 2011 | Pitagiri Hotel on Palmerah Barat No. 110 Jakarta Barat | 16.30 - end. Be there! =)
Artworks
Buku
Desain
Download PO Binus Free-Magazine: Talenta#02 - Interdenominasi
3:12 AMorangizenk
Mengakar
Redaksi bersyukur dan berterima kasih atas sambutan positif, support, doa dan dukungan banyak pihak untuk terbitnya majalah Talenta#02. Banyak sekali artikel dan karya yang khusus disubmit oleh para kontributor untuk tema “Interdenominasi” kali ini. Mulai dari mahasiswa aktif bahkan special submission dari alumnus-alumnus tercinta yang dahulu juga Tuhan izinkan melayani di majalah ini sewaktu masih berbentuk cetak. =)
Dari satu generasi ke generasi berikutnya, penyertaan Tuhan begitu luar biasa. Demikian pula penyertaanNya pada PO Binus, persekutuan mahasiswa yang bersifat interdenominasi. Khususnya dalam rangka menyambut dan mengenalkan kepada Binusian yang baru saja bergabung di kampus kita tercinta, isu ini masih saja hangat untuk diperbincangkan. Interdenominasi dalam persekutuan mahasiswa kita ini (sayangnya) seringkali dianggap sebagai sebagai sarana ‘rebut-rebutan’ jemaat gereja atau -yang lebih miris lagi- independensi rebelitas mahasiswa belaka. Benarkah demikian atau itu semua cuma penilaian tak berdasar semata? Simak ulasan mengenai Interdenominasi di PO Binus dan kaitannya dengan gereja dan kehidupan perkuliahan mahasiswa di rubrik Trending Topic kali ini. Baca juga Truth Finder yang mengupas PA dan Latar belakang kota Korintus yang dilayani oleh Paulus; kenal lebih dekat sosok Pak Elidjen di segmen Talented; renungan singkat dan cerita unik tentang kerjasama dalam ThinkThank dan Tale. Feature seru lainnya disajikan dalam Telecine, Tracklist, Tanya Jawab, dan masih banyak lagi. Jangan lupa kirim kuis kalian di Tebak edisi ini dan menangkan hadiah spesial dari Talenta!
Sebuah kebijaksanaan Bali berkata: “Hiduplah seperti pohon yang kokoh, memiliki akar tertancap kuat pun dalam namun bertumbuh subur di setiap cabang, kembang dan buahnya”. Interdenominasi dalam PO Binus menghargai indahnya setiap lekuk cabang dan ranting dalam keberagaman yang luar biasa kaya dalam tubuh Kristus. Namun dalam mengakar, PO Binus tidak akan menancapkan pertumbuhan selain berdasarkan pada pengajaran sehat Alkitab, Firman Allah. Well, Selebihnya, interdenominasi dalam majalah ini tak lebih dari sekedar suplemen kognitif belaka, jika tidak dinikmati secara langsung dalam setiap persekutuan dan kebersamaan dalam Kristus lewat PO Binus. Jadi, nikmatilah selama masa perkuliahanmu di Binus University ini. Selamat membaca! Selamat bersekutu!
Mediafire
mirror:
Indowebster
POsitif, PO Sabtu Media in Action and Faith, is a booklet i made weekly for PO Sabtu this period 2009-2010. Everybody is happy to hear or read stories, but it is always something warm and comfort to hear something good in this wicked world. We need something Positive. An optimistic way to see this world, to believe and to act. So, Positif will be a good name for it. None on earth such a positive news like Gospel-of-salvation-in-Christ-given-free-for-sinners-like-us, right?
Well, i admit that i do a lot of copy-paste while collecting sources such as sermons, stories, images, facts, etc. But i also thank God for each 35 books, He leads me for some inspirations so i could write down every single editorial page in POdium. I thank also for those who allows me to insert their writings into a column POsting, a column special for blog post. Thanks to Esther Hermawan (Hahaha! I "stole" a lot of your writing and it so encourage us, Sis), Meditran Revelino, Robert Halim, Eric Wijaya, Ida Ratna, Darli, Sherry, David and all of you who spent time for gave me really great source for this books. Well, you can download all of them here in PDF. Hope it can be such a blessing for you to enjoy each theme on PO Sabtu. All glory to the Lord!
PS: Please tell me which edition cover that you love the most. For me the 19th is the best. Putih dari Putih. Haha!
Well, i admit that i do a lot of copy-paste while collecting sources such as sermons, stories, images, facts, etc. But i also thank God for each 35 books, He leads me for some inspirations so i could write down every single editorial page in POdium. I thank also for those who allows me to insert their writings into a column POsting, a column special for blog post. Thanks to Esther Hermawan (Hahaha! I "stole" a lot of your writing and it so encourage us, Sis), Meditran Revelino, Robert Halim, Eric Wijaya, Ida Ratna, Darli, Sherry, David and all of you who spent time for gave me really great source for this books. Well, you can download all of them here in PDF. Hope it can be such a blessing for you to enjoy each theme on PO Sabtu. All glory to the Lord!
PS: Please tell me which edition cover that you love the most. For me the 19th is the best. Putih dari Putih. Haha!
Download POsitif Here
Dari artinya, prolog didefinisikan sebagai pendahuluan, pembukaan atau pengantar yang dibawakan sebelum suatu acara atau pagelaran. Serangkaian kata-kata untuk membukakan persepsi, menyatukan pandangan atau mungkin sebuah introduksi. Kalimat yang bagi sebagian orang harus dapat mengimpresikan kesan pertama yang meyakinkan agar audiens tertarik untuk duduk menikmati acara sampai selesai. Kalau dihubungkan dengan kehidupan rohani, kita pun kadang sering tanpa sadar mengucapkan “prolog” singkat kepada Tuhan akan apa yang hendak kita lakukan di awal suatu masa, tahun, atau periode. Lazimnya dikenal dengan komitmen. Tertarikkah Tuhan dengan segala macam komitmen dan kata-kata yang acapkali kita ikrarkan dalam masa tahun baru atau seusai “lahir baru” lewat KKR Natal kemarin?
Tema yang diangkat Talenta edisi ini adalah Reborn (Dilahirkan Kembali). Proses penyusunan ulang konsep dan materi artikel untuk Majalah PO Binus ini cukup menggairahkan. Teman-teman team Publikasi Dokumentasi PO Binus periode 2009-2010 berantusias untuk melahirkan kembali media komunikasi berbentuk majalah dengan format digital. Tujuannya selain penghematan biaya cetak dan distribusi, tentunya diharapkan sebagai media yang powerful, praktis dan gratis untuk disebarluaskan, apalagi sebagai civitas akademis Binus University. Content dan artwork yang ditampilkan sebisa mungkin sesuai dengan konteks pemberitaan Firman Tuhan. Technically seluruhnya dibuat, disusun serta dirancang oleh dan untuk mahasiswa dengan gaya mahasiswa.
Yah, tidak bisa dipungkiri masih banyak kekurangan disana-sini. Namun inilah yang terbaik yang redaksi dan segenap kontributor coba sajikan untuk memberkati pembaca dan memuliakan Allah. Segenap komentar dan tanggapan kepada redaksi, akan diterima dengan senang hati. Tak lupa dinaikkan puji dan syukur tak terkira untuk Tuhan Yesus buat anugrah dan hikmat dariNya., juga rasa terima kasih untuk seluruh dukungan, support dan kerjasama dari seluruh team Talenta, kontributor, pengurus 2009-2010, jemaat PO Binus yang terkasih dan juga para alumnus, “sesepuh” founder majalah Talenta ini. Kiranya masa awal tahun ini merupakan suatu stepping stone untuk kita semua lahir kembali, menjalani tiap hari dengan hidup baru yang menyenangkan Allah. Sebuah awal yang baru pula untuk pelayanan majalah Talenta ini. Semoga!
Download Talenta#01 - Reborn: http://www.mediafire.com/?n3zngmdik2u http://www.indowebster.com/Talenta01Reborn.html
![]() |
| Source Image: Google |
Gimana kalo suara ngeJazz dan Pop easy-listening Jason Mraz dipake buat nyanyiin lagu rohani? Jimmy Needham jawabannya! Musisi Kristen Kontemporer yang mengeluarkan debut album keduanya, “Not Without Love” dari Inpop Records.
Dalam album sebelumnya, Speak, Needham menyatakan kalo musiknya dipengaruhi Jonny Lang, Lauryn Hill, Gavin De Graw, Marc Broussard, Jason Mraz dan khususnya Keith Green. Musik-musiknya dibuat dengan penuh penjiwaan. Ini adalah musik untuk mewakili mereka yang lelah dan berbeban berat, musik yang dibuat untuk menyenangkan Tuhan dengan aliran yang akustik, nge-blues, funky, campuran antara keyakinan dan rasa syukur.
Lewat musik, lulusan Sejarah dan Filsafat Texas A&M University ini melayani sebagai undangan terbuka untuk semua orang Kristen untuk jadi makin sungguh, tekun dan bergairah untuk Injil, yang adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Seperti dalam track “Forgiven and Loved” yang menyiratkan pesan anugerah, Needham berharap lewat lagu ini sebuah perubahan dari pengetahuan secara kognitif dalam kepala jadi sebuah pengertian dalam hati. “Inilah yang saya minta dari Tuhan, sebuah peringatan bahwa saya diampuni dan dicintai. Bahwa tidak ada penghukuman dalamNya, “ Jelasnya.
Lagu-lagu yang lainnya juga ga kalah dalem. Buat mereka yang ngikutin musiknya mungkin mengharapkan musik dengan dasar teologi yang solid dan album Not Without Love ini menyajikannya dengan apik. “Rend” menggambarkan ungkapan profetik dari Yoel untuk menguatkan orang-orang percaya untuk datang menghadap Allah dengan hati yang hancur dan penyesalan. “Yang Allah inginkan bukan pertunjukkan dan persembahan. Dia ga mau kita mengoyak pakaian kita. Namun yang Ia inginkan adalah kita mengoyak kesombongan dan dosa dalam hati kita”.
Tell me I’m forgiven and loved , ‘Cause I hear it from the street corner priests
Katakan padaku bahwa aku diampuni dan dicintai, karna telah kudengar dari pengkhotbah di ujung jalan
On how God is love and how man can be clean,
Bagaimana Allah adalah cinta dan bagaimana manusia dapat disucikan
But my joy has been on holiday, And my peace has almost passed away,
Tapi sukacitaku sudah pergi dan damaiku hampir sirna.
Tell me I’m forgiven and free
Katakan padaku bahwa aku diampuni dan bebas,
O I tried and tried to rectify my hopeless situation
Telah kucoba dan terus kucoba untuk memperbaiki situasi tanpa harapan ini
But I bought the lie I still have work to do
Tapi ini membawaku kepada kebohongan yang semakin dalam
Now I’m working nine to five like I can earn my own salvation
Sekarang aku bekerja dari pagi sampai senja seolah aku dapat mengusahakan keselamatanku
But there is no condemnation in You
Tapi hanya di dalamMu tidak ada penghukuman
O He died, He died to rectify my hopeless situation
Dia mati, Dia mati untuk memperbaiki situasi tanpa harapan ini
And His blood commands my guilt to leave
Dan kuasa darahNya mengenyahkan kesalahanku
Now on Calvary I stand , Empty pockets, open hands
Kini kuberdiri di Kalvari, dengan kantung kosong dan tangan terbuka
O there is no condemnation for me
Tidak ada penghukuman bagiku
Child, you’re forgiven and loved
Anakku, engkau telah diampuni dan dicintai
//Forgiven And Loved
Discography:
• 2005: For Freedom – independently released
• 2006: Speak – Inpop Records
• 2008: Not Without Love – Inpop Records
Dalam album sebelumnya, Speak, Needham menyatakan kalo musiknya dipengaruhi Jonny Lang, Lauryn Hill, Gavin De Graw, Marc Broussard, Jason Mraz dan khususnya Keith Green. Musik-musiknya dibuat dengan penuh penjiwaan. Ini adalah musik untuk mewakili mereka yang lelah dan berbeban berat, musik yang dibuat untuk menyenangkan Tuhan dengan aliran yang akustik, nge-blues, funky, campuran antara keyakinan dan rasa syukur.
Lewat musik, lulusan Sejarah dan Filsafat Texas A&M University ini melayani sebagai undangan terbuka untuk semua orang Kristen untuk jadi makin sungguh, tekun dan bergairah untuk Injil, yang adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Seperti dalam track “Forgiven and Loved” yang menyiratkan pesan anugerah, Needham berharap lewat lagu ini sebuah perubahan dari pengetahuan secara kognitif dalam kepala jadi sebuah pengertian dalam hati. “Inilah yang saya minta dari Tuhan, sebuah peringatan bahwa saya diampuni dan dicintai. Bahwa tidak ada penghukuman dalamNya, “ Jelasnya.
Lagu-lagu yang lainnya juga ga kalah dalem. Buat mereka yang ngikutin musiknya mungkin mengharapkan musik dengan dasar teologi yang solid dan album Not Without Love ini menyajikannya dengan apik. “Rend” menggambarkan ungkapan profetik dari Yoel untuk menguatkan orang-orang percaya untuk datang menghadap Allah dengan hati yang hancur dan penyesalan. “Yang Allah inginkan bukan pertunjukkan dan persembahan. Dia ga mau kita mengoyak pakaian kita. Namun yang Ia inginkan adalah kita mengoyak kesombongan dan dosa dalam hati kita”.
Tell me I’m forgiven and loved , ‘Cause I hear it from the street corner priests
Katakan padaku bahwa aku diampuni dan dicintai, karna telah kudengar dari pengkhotbah di ujung jalan
On how God is love and how man can be clean,
Bagaimana Allah adalah cinta dan bagaimana manusia dapat disucikan
But my joy has been on holiday, And my peace has almost passed away,
Tapi sukacitaku sudah pergi dan damaiku hampir sirna.
Tell me I’m forgiven and free
Katakan padaku bahwa aku diampuni dan bebas,
O I tried and tried to rectify my hopeless situation
Telah kucoba dan terus kucoba untuk memperbaiki situasi tanpa harapan ini
But I bought the lie I still have work to do
Tapi ini membawaku kepada kebohongan yang semakin dalam
Now I’m working nine to five like I can earn my own salvation
Sekarang aku bekerja dari pagi sampai senja seolah aku dapat mengusahakan keselamatanku
But there is no condemnation in You
Tapi hanya di dalamMu tidak ada penghukuman
O He died, He died to rectify my hopeless situation
Dia mati, Dia mati untuk memperbaiki situasi tanpa harapan ini
And His blood commands my guilt to leave
Dan kuasa darahNya mengenyahkan kesalahanku
Now on Calvary I stand , Empty pockets, open hands
Kini kuberdiri di Kalvari, dengan kantung kosong dan tangan terbuka
O there is no condemnation for me
Tidak ada penghukuman bagiku
Child, you’re forgiven and loved
Anakku, engkau telah diampuni dan dicintai
//Forgiven And Loved
Discography:
• 2005: For Freedom – independently released
• 2006: Speak – Inpop Records
• 2008: Not Without Love – Inpop Records
![]() |
| Source Image: Google |
Ngaku seneng dengar musik berkualitas? Jangan lewatin albumnya band rock Kristen peraih Grammy Award dari Franklin, Tennessee: Jars of Clay! Bareng Dan Haseltine pada vokal, Charlie Lowell di piano dan keyboards, lead guitar oleh Stephen Mason dan Matthew Odmark sebagai rhythm guitarist, Jars of Clay menyuguhkan blend perfect dari alternative rock, folk, acoustic, R&B, dan Electronica kayak genre-nya Nidji. Nama Jars of Clay sendiri diambil dari NIV 1 Korintus 4:7 “ But we have this treasure in jars of clay to show that this all-surpassing power is from God and not from us.”
Di album terbaru mereka, "The Long Fall Back to Earth" yang rilis April lalu, ada 14 lagu yang pasti bikin kamu pengen denger lebih dari sekali sangking mantebhnya! Di album kesepuluh ini, Jars of Clay tampil lebih dewasa. Dari kualitas genre yang lebih bervarian tapi tetep catchy dan balutan Britpop yang beda banget dari album-album terdahulu mereka, Jars of Clay menyuguhkan musik kristen yang jujur nan puitis(Hehehe!). Lirik yang dalem, bahkan meskipun mereka dengan jarangnya menyisipkan istilah-istilah yang divine, band yang kebentuk sejak ketemuan di Greenville College Illinois ini sanggup bikin kita mikir that must be a real relation with our own Father: honest and just whatever you are!. Kayak di track "Heart"
I let it get dark, so you'll see the stars
Kubiarkan gelap datang, sehingga kau dapat menatap bintang
They'll say we're in love, we probably are
Mereka bilang kita sedang jatuh cinta, mungkin
No mountains to climb, papers to sign
Tak perlu gunung untuk didaki, kertas untuk ditandatangani
Offer your heart, I've given you mine
Cukup berikan hatimu, Kuberikan hatiku
Jangan jadi orang menyebalkan yang cuma bisa ngritik lagu-lagu kontemporer tanpa tau siapa-siapa aja yang bermusik di bidang ini. Nggak bermaksud munafik, but sometimes we need to listen some gospel bands with highly arranged with no crappy-preachy-boring lyrics. Jars of Clay may be one of the right answer! Enough with another pop gospel band yang liriknya cuma copy-paste dari band-band laen buat sekedar tenar. Dunia butuh musik dengan pesan positif dan musikalitas yang serius digarap kayak Jars of Clay gini. Come, spread the gospel into the world within creative ways!
Recommended Tracks: Weapons, Don't Stop, Heart, Hero (yang dipake di trailer serial TV Kings di NBC)
Discography:
* Frail (1994)
* Jars of Clay (1995)
* Much Afraid (1997)
* If I Left the Zoo (1999)
* The Eleventh Hour (2002)
* Who We Are Instead (2003)
* Redemption Songs (2005)
* Good Monsters (2006)
* Christmas Songs (2007)
* The Long Fall Back to Earth (2009)
I hate all your show and pretense, the hypocrisy of your praise
Aku benci semua pertunjukkan dan kepura-puraanmu, Kemunafikan pujianmu
the hypocrisy of your festivals, I hate all your show
Kepalsuan perayaanmu, Aku benci semua pertunjukkanmu
Away with your noisy worship, Away with your noisy hymns
Enyah dengan penyembahanmu yang berisik, Pergi dengan himne-mu yang ribut
I stop up my ears when your singing ‘em, I hate all your show
Aku tidak sudi mendengar kau menyanyikannya, Aku benci semua pertunjukkanmu
Instead let there be a flood of justice
Sebaliknya, keadilanlah yang harus mengalir
An endless procession of righteous living, living
Arak-arakan tanpa henti tentang hidup benar
Instead let there be a flood of justice, Instead of a show
Seharusnya, keadilanlah yang tetap meluap, alih-alih pertunjukanmu
your eyes are closed when you’re praying
Matamu terpejam waktu berdoa
you sing right along with the band
Nyanyianmu mengalun dengan band
you shine up your shoes for services
Kau semir sepatumu untuk pelayanan
but there’s blood on your hands
Tapi masih ada darah di tanganmu
you turned your back on the homeless
Kau hadapkan punggung untuk yang tak berumah
and the ones that don’t fit in your plans
Orang-orang yang tidak masuk hitunganmu
quit playing religion games
Berhenti bemain-main sok suci
there’s blood on your hands
Masih ada darah di tanganmu
Ah! let’s argue this out
Ah! Marilah kita berperkara
if your sins are blood red
Sekalipun dosamu semerah darah
let’s argue this out
Baiklah kita berperkara
you’ll be white as the clouds
Kau akan putih seperti awan-awan
let’s argue this out, quit fooling around
Mari kita berperkara, Berhenti membodohi sekelilingmu
give love to the ones who can’t love at all
Cintai mereka yang tak bisa mencintai lagi
give hope to the ones who got no hope at all
Berikan pengharapan untuk yang putus asa
stand up for the ones who can’t stand up at all, instead of a show
Kuatkan yang tak mampu lagi berdiri, Bukan cuma pertunjukkan
I hate all your show
Aku benci semua pertunjukkanmu!
- Instead Of A Show, From: Limbs And Branches
Ga kebayang deh kalo God nyanyiin lagu ini sama kita-kita yang udah pelayanan sekian lama! Ini yang bikin aku langsung jadiin album ini top list buat diputer tiap nyalain komputer. 12 Lagu paling mantep dari solo projectnya John Foreman, Vocalist Switchfoot. Tau kan, Switchfoot tuh band sekuler yang mbawain pesan-pesan moral di tiap albumnya. Mereka udah ngisi banyak Soundtrack di film Hollywood kayak Spiderman, A Walk to Remember, & Chronicles of Narnia.
Nah, buat Project album Limbs and Branches ini, November 2007 dan Juni 2008 lalu, Foreman udah ngeluarin 2 Album yang dinamai kayak nama musim: Fall, Winter dan Spring, Summer. Isi Track di Limbs and Branches ini ga lain kompilasi dari album sebelumnya, berdasarkan pilihan fans +2 hits baru. Beda banget sama Switchfoot, musik di Limbs and Branches ini justru lebih akustikan, agak nge-folk, rada country dikit..pokoknya seger banget deh..Hehe! Apalagi atmosfer praisenya yang lebih denotatif dan nancep kayak Doa Bapa Kami di "Your Love Is Strong" Ato Mazmur 23 versi "House of God, Forever". Keren abis buat yang nyari lagu gospel yang jujur & relevan sama kehidupan youth!
Aku benci semua pertunjukkan dan kepura-puraanmu, Kemunafikan pujianmu
the hypocrisy of your festivals, I hate all your show
Kepalsuan perayaanmu, Aku benci semua pertunjukkanmu
Away with your noisy worship, Away with your noisy hymns
Enyah dengan penyembahanmu yang berisik, Pergi dengan himne-mu yang ribut
I stop up my ears when your singing ‘em, I hate all your show
Aku tidak sudi mendengar kau menyanyikannya, Aku benci semua pertunjukkanmu
Instead let there be a flood of justice
Sebaliknya, keadilanlah yang harus mengalir
An endless procession of righteous living, living
Arak-arakan tanpa henti tentang hidup benar
Instead let there be a flood of justice, Instead of a show
Seharusnya, keadilanlah yang tetap meluap, alih-alih pertunjukanmu
your eyes are closed when you’re praying
Matamu terpejam waktu berdoa
you sing right along with the band
Nyanyianmu mengalun dengan band
you shine up your shoes for services
Kau semir sepatumu untuk pelayanan
but there’s blood on your hands
Tapi masih ada darah di tanganmu
you turned your back on the homeless
Kau hadapkan punggung untuk yang tak berumah
and the ones that don’t fit in your plans
Orang-orang yang tidak masuk hitunganmu
quit playing religion games
Berhenti bemain-main sok suci
there’s blood on your hands
Masih ada darah di tanganmu
Ah! let’s argue this out
Ah! Marilah kita berperkara
if your sins are blood red
Sekalipun dosamu semerah darah
let’s argue this out
Baiklah kita berperkara
you’ll be white as the clouds
Kau akan putih seperti awan-awan
let’s argue this out, quit fooling around
Mari kita berperkara, Berhenti membodohi sekelilingmu
give love to the ones who can’t love at all
Cintai mereka yang tak bisa mencintai lagi
give hope to the ones who got no hope at all
Berikan pengharapan untuk yang putus asa
stand up for the ones who can’t stand up at all, instead of a show
Kuatkan yang tak mampu lagi berdiri, Bukan cuma pertunjukkan
I hate all your show
Aku benci semua pertunjukkanmu!
- Instead Of A Show, From: Limbs And Branches
Ga kebayang deh kalo God nyanyiin lagu ini sama kita-kita yang udah pelayanan sekian lama! Ini yang bikin aku langsung jadiin album ini top list buat diputer tiap nyalain komputer. 12 Lagu paling mantep dari solo projectnya John Foreman, Vocalist Switchfoot. Tau kan, Switchfoot tuh band sekuler yang mbawain pesan-pesan moral di tiap albumnya. Mereka udah ngisi banyak Soundtrack di film Hollywood kayak Spiderman, A Walk to Remember, & Chronicles of Narnia.
Nah, buat Project album Limbs and Branches ini, November 2007 dan Juni 2008 lalu, Foreman udah ngeluarin 2 Album yang dinamai kayak nama musim: Fall, Winter dan Spring, Summer. Isi Track di Limbs and Branches ini ga lain kompilasi dari album sebelumnya, berdasarkan pilihan fans +2 hits baru. Beda banget sama Switchfoot, musik di Limbs and Branches ini justru lebih akustikan, agak nge-folk, rada country dikit..pokoknya seger banget deh..Hehe! Apalagi atmosfer praisenya yang lebih denotatif dan nancep kayak Doa Bapa Kami di "Your Love Is Strong" Ato Mazmur 23 versi "House of God, Forever". Keren abis buat yang nyari lagu gospel yang jujur & relevan sama kehidupan youth!







