Rasanya benar-benar nggak enak kalau dihantui ketakutan, yang beralasan atau terlebih lagi yang tak disertai alasan. Perasaan tertuduh lama-lama bikin orang jadi paranoid terhadap semuanya. Ketakutan demikian, yang dalam batas tertentu, sebenarnya justru luar biasa wajar dan adalah anugerah yang patut disyukuri. Penanda sederhana bahwa kita masih punya nurani yang terusik lalu dengan nggak sadar mengganggu siang malam sampai akhirnya kita angkat bicara kemudian mengakuinya.
Namun, seperti kita selalu bisa menekan nurani dalam batas yang halus, kelak ketakutan yang disembunyikan kemudian tumbuh jadi kompromi kemudian jadi mati rasa dan bebal terhadap setiap kesalahan. Jangankan yang disinggung langsung, yang tersirat pun tidak. Oh, betapa kita pada akhirnya kemudian terjebak dalam lingkaran daur yang sama. Inilah kabar sukacita Natal itu: Kasih sudah datang dalam dunia dan melenyapkan ketakutan. Ini bukan berarti menulikan nurani sementara terus bergelimang di dalam kesalahan, namun hanya karena Kasih yang sanggup menyempurnakan perbuatan kita yang terbatas dan kebaikan kita yang cacat. Selamat Natal, teman-teman! Kasih sudah datang!
Tentang Memberi
Saya tidak percaya orang bisa menentukan berapa banyak yang harus kita berikan. Saya takut satu-satunya peraturan yang aman adalah dengan memberi lebih banyak daripada yang bisa kita sisihkan... Jika pemberian kita sama sekali tidak memeras atau membatasi kita, harus saya katakan bahwa pemberian itu terlalu kecil. — C.S. Lewis
Memberi itu tidak sesederhana melepaskan milik yang sisa, yang tak berguna, atau yang malah sudah jadi sampah. Ada sisa snack tadi pagi, belum rusak meskipun aromanya sudah mulai basi. Buru-buru saja dibagikan, daripada nggak ada yang makan. Ada barang obralan tak laku yang terlanjur dibeli, lalu ketahuan cacat di sana sini. Disumbangkan saja, biar tak teronggok berdebu dan memenuhi rumah.
Pemberian tak melulu benda berwujud, tampak dan kasat. Dapat pula, alih-alih nasihat, justru komentar sok tahu bernada ikut campur yang bangsat. Lalu deretkan lagi beragam pemberian sisa dan nirguna —waktu yang sisa, niat yang separuh, pikiran yang mengembara, tenaga yang setengah, perhatian yang terpecah dan berbagai pemberian sampah. Bikin runyam, tambah suram. Jenis pemberian macam ini yang daripada berdaya dan bertepat guna, justru lebih banyak bikin repot sang penerima.
Memberi, baik yang sembunyi-sembunyi dan spontan terjadi, adalah resep memadamkan murka. Begitu juga dengan pemberian bukan benda dalam waktu, kadar dan jumlah yang tepat... bla bla bla. Menulis rumusan memberi tak akan bisa diakhiri. Saya rasa, sebagaimana memberi adalah aksi dasar insting manusia sebagai makhluk sosial, menerima pun adalah respon komplemen yang naluriah dan normal. Hanya saja, naluri itu mampu mengendus pemberian yang tak tulus, sekedar cari muka, maupun modus. Memang memberi itu berpadanan dengan menyerahkan, membagi, menyumbangkan atau berdonasi, tetapi tak pernah berarti tindakan menyampah atau bikin orang lain makin susah. Memberi atau menahan diri, silakan putuskan sendiri. Saya rasa anda jauh lebih ahli. :)
Open publication - Free publishing - More christmas
A graphic novel, a comic, a critique, whatever you name it. Happy Christmas, everyone!
A graphic novel, a comic, a critique, whatever you name it. Happy Christmas, everyone!
Nama tekniknya WPAP atau Wedha's Pop Art Portrait. Teknik cerdas bikinan Pak Wedha Abdul Rasyid. Beliau adalah salah satu insan desain grafis yang paling disegani di negeri ini. Kampus saya, DKV Binus University, turut mengapresiasi sumbangsih beliau di ranah visual dengan Anugerah Samartharupa. Temen-temen seangkatan saya mungkin masih inget tokoh Lupus-nya Hilman. Naah, Pak Wedha-lah yang berjasa di balik semua ilustrasi novel jenaka itu. Tidak sampai di sana saja, keterbatasan penglihatan mendorong beliau untuk bereksperimen dengan bentuk-bentuk geometris tajam dan beragam intensitas warna, namun tetap mampu mencitrakan sosok yang dilukiskan. Melalui perjalanan panjang terciptalah WPAP yang akhirnya selesai dipatenkan bulan lalu.
Mengapa WPAP musti sampai dipatenkan? Jadi dengan adanya paten, memang berarti (semoga) tidak akan ada lagi kaos WPAP illegal versi Mangga Dua atau Tanah Abang, tapi sekaligus pula nggak boleh lagi ada desainer lain yang boleh pake teknik WPAP? Begitu tanya saya via message. "Heri," balas Beliau "Niatan awalku adalah 'memberi' sesuatu pada banyak orang/perupa. Nah, memberi itu sebaiknya sesuatu yang jadi milikku. Aneh sekali kalau aku memberi sesuatu pada orang lain, sedangkan sesuatunya itu milik orang lain juga. Untuk itulah aku urus patennya. Aku hanya ikhlas memberi pada temen2 yang bersedia bersama-sama mengangkat/ melestarikan WPAP sampai ke pentas dunia, sesuai mimpiku". Demikian percakapan saya dengan beliau dan makin besarlah rasa hormat saya kepada Empu Desain Grafis ini.
Ah... Saya jadi tersadarkan kembali. One simply can not give what he never has. And as a human being, we can never earn anything. That's why The greatest gift of salvation is given unto us for free, though it was not paid cheaply. A gift of an everlasting life called GRACE.
PS: Download wallpapernya sesuai ukuran Desktop kamu di www.warungsatekamu.org
Artworks
Cerita
Komik Rohani Kristen
Wallpaper Natal: Come Thou Long Expected Jesus
6:00 AMorangizenkAfeksi macam mana yang bikin Sang Khalik mau reduksi pribadi?
Jadi bayi manusia yang lemah, menangis, dan mengompol?
Tentu saja buat sebagian orang, itu gagasan tolol
Allah jadi manusia? Sungguh ide gila luar biasa!
Sebab, memang demikian besar cinta Sang Kasih
Ajaib dan liarNya mustahil terselami.
Sebab, memang sesungguhnya hal terbesar yang dibutuhkan segala bangsa adalah anugerah
Kemudian Allah sendiri mengaruniakan diriNya jadi hadiah
Sebab, memang Mesias yang lama dinanti itu sudah jadi manusia.
Bertulang. Berdaging. Berdarah. Bersuara.
Sebab seorang Anak telah lahir untuk kita,
seorang Putera telah diberikan untuk kita.
Namanya dikenal Imanuel, Tuhan beserta kita!
Maukah percaya pada-Nya?

Bapa kami yang di sorga,
dikuduskanlah nama-Mu.
Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu,
di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,
dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga telah mengampuni
orang yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.
[Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya]
Amin
PS: Download wallpapernya sesuai ukuran desktop kamu dan baca juga renungannya di www.warungsatekamu.org
















