Idenya berlanjut dari kisah seorang anak yang memberikan Lima Roti dan Dua Ikan-nya kepada Yesus. Bekal yang seadanya itu diberkati dan dipakai Allah untuk mengenyangkan 5000+ orang pada saat itu. TI (Teknologi Informasi) dan turunannya rasanya sudah menjadi bagian hidup yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kita sehari-hari, terutama yang dikaruniakan kesempatan mengenyam pendidikan tingkat lanjut. Rasanya dunia kiamat kecil waktu device macam laptop keformat, smartphone rusak atau internet mati. Tapi TI nggak sesempit itu, sob. TI juga bisa dipakai untuk pelayanan pula. Tidak selalu harus bersinggungan dengan kegiatan agamis, kalau niatannya memang menyejahterakan kehidupan, jiwa-jiwa sosialis pasti tidak akan tinggal diam.
Iklan ini bagian dari publikasi Gathering IT Ministry, "Adressing Mission Challenges in the 21st Century through ICT" bulan depan. Brief-nya mengenai kesaksian teman-teman yang menggunakan TI dalam bentuk yang paling sederhana seperti mengajar menggunakan software pengolah kata macam Word, sampai profesional yang telah menyabet banyak awards. Err... bukan bermaksud narsis, tapi panitia yang insist buat memasukkan sharing saya pula ditinjau dari penggunaan TI di area desain dan animasi. Hahaha. Ayo, para penggiat TI secara profesi, mahasiswa, atau pekerja nonprofit organization yang berkesempatan luang, silakan gabung dalam diskusi dan aksi nyata di event ini.
Thanks to Christie Dewi, Sherry Julisa, Ida Ratna, & Ko Soegianto yang sudah berkontribusi membantu bikin video ini sampai jadi. :)
Score by Mark Willard - Brooke Tells Grant About The Baby (OST. Facing The Giant)
Artworks
Film & Animasi
Ilustrasi
Ojo Ketinggalan: Trailer Keripik Sukun Mbok Darmi
6:00 AMorangizenkKeripik Sukun Mbok Darmi (Madam Darmi's Sukun Chip) is a short animation movie for my final year project in School of Animation, Binus University.
Coming soon on Fresh n' Brite 2012,
October 12-14, 2012.
Kota Kasablanka, Kuningan. Jakarta.
Done using Blender 3D, Adobe Photoshop & AfterEffect.
Music by Wieteke Van Dort & Carol Khaoli
Website: http://keripiksukunmbokdarmi.tumblr.com/
Fanpage: https://www.facebook.com/keripiksukunmbokdarmi
Contact me: orangizenk@gmail.com
Check out YMIBlogging and Warungsatekamu for more resources! :)
Artworks
Film & Animasi
Motion Graphic
IT Ministry Gathering - Versi "Apa yang ada Padamu?"
11:22 AMorangizenk
Sebatang tongkat gembala sederhana di tangan Musa bisa dipakai Allah untuk membelah laut Teberau, mengeluarkan air dari karang dan memimpin umatNya ke tanah perjanjian. Lima roti dan dua ekor ikan yang dipersembahkan seorang anak, sanggup diberkati Tuhan untuk memberi makan lima ribu orang. Tidak ada hal yang terlalu sederhana untuk dipakai Allah dalam menggenapi misiNya dan tidak ada persembahan yang terlalu sedikit untuk Dia berkati bagi banyak orang. Di dunia IT - Teknologi Informasi dan Komunikasi, talenta, skills, tenaga, bahkan device paling sederhana, memberikan sumbangsih di bagian masing-masing guna kerajaanNya. Mungkin sebenarnya poin utamanya itu sesederhana tindakan seorang anak yang menawarkan bekal makanannya untuk Tuhan bagi-bagikan. Nah, kamu termasuk yang rela atau enggan? Ayo berbagian!
http://www.itministry.org/
Saya anak Tarakan, Kalimantan Timur. Sejak lahir, dibesarkan dan menyelesaikan pendidikan sebagai siswa di kota kecil di perbatasan tersebut. Ya, sudah tentu tidak ada stasiun kereta apa pun di pulau Tarakan. Pengalaman pertama kali saya naik kereta adalah saat menginjakkan kaki ke Jakarta dari Surabaya pada 2007. Kala itu adalah awal saya mengenal DKV Binus University.
Di stasiun, penumpang tiba dan berangkat silih berganti. Satu kereta datang, singgah sebentar lalu pergi. Demikian pula dalam proses belajar dalam hidup. Suatu hari kita berangkat bersama dengan orang-orang di sekitar yang bertujuan serupa. Sepanjang perjalanan kereta, melalui interaksi dan tukar sapa, orang asing berubah menjadi kenalan, teman menjadi sahabat dan melalui mereka, kita pun semakin mengenali diri kita sendiri. Stasiun menjadi titik-titik perhentian untuk mereka yang singgah sebentar atau bahkan berganti rute meninggalkan kita. Stasiun adalah tempat pertemuan sekaligus tempat perpisahan perjalanan masing-masing orang.
Anugerah yang luar biasa bahwa saya dapat mengecap perkuliahan di Animasi DKV Binus University. Tak terhitung segenap dosen, sahabat atau sekedar kenalan sepanjang perjalanan saya yang bertukar pengalaman, berbagi kesenangan, menampung kesedihan dan dalam semua hal, mengajarkan banyak hal kepada saya. Menyelesaikan tugas akhir film pendek animasi “Keripik Sukun Mbok Darmi” ini adalah sebuah kelegaan yang tak terkira sekaligus rasa haru karena tandanya sebentar lagi tibalah saya di sebuah stasiun. Meskipun ini bukanlah stasiun akhir, melainkan sebuah rute baru yang menempuh perjalanan baru berikutnya. Mungkin kelak bertemu kembali dengan penumpang yang sama atau kesempatan berkenalan dengan penumpang baru di rute tersebut, lalu bersama-sama menempuh kilasan-kilasan perjalanan, dan kemudian tiba di stasiun lainnya. Well, barangkali justru disanalah terletak seni menikmati perjalanan naik kereta. Benar, kan? :)
Saya berjuang karena saya tahu yang saya perjuangkan itu sangat berharga dalam hidup saya. Sedemikian berartinya sampai-sampai demi hal tersebut, saya rela habis-habisan mengorbankan waktu, tenaga, uang, dan seluruh hak saya yang lainnya demi hal tersebut.
Saya berjuang karena saya sungguh-sungguh mengharapkan apa yang saya lakukan ini kelak akan menghasilkan buah yang ranum dinikmati. Berbuah sepuluh kali lipat, tiga puluh kali lipat bahkan seratus kali lipat. Tuaian berlimpah yang layak untuk diperjuangkan dengan tekun.
Saya berjuang karena saya sadar jika saya berhenti berjuang, dunia yang terpuruk ini akan terus menerus coba memisahkan dengan kejam. Kehilangan pasti datang tak diundang, tapi saya tak rela menjamunya lebih dini.
Saya berjuang karena saya tidak mau mengulangi kegagalan dan kebodohan di masa lalu. Terlalu banyak yang saya sia-siakan dan sekedar penyesalan tidak mampu mengubah keadaan.
Kendati nyata kelak sebenarnya perjuangan saya jauh dari sempurna. Masih ada banyak hal yang ternyata secara sadar belum saya korbankan, atau kekecewaan karena tuaian sejauh ini tidak memuaskan harapan, atau tidak dapat tertangguh, kehilangan buru-buru datang menjemput, atau kebodohan menyeret saya ke dalam lubang yang sama.
Karena mungkin perjuangan sebenarnya adalah sebuah bentuk memaknai ulang. Benar, bahwa sesuatu yang berharga, selalu layak untuk diperjuangkan, namun sekaligus juga berarti bahwa oleh sebab diperjuangkanlah, sesuatu yang tidak layak menjadi berharga. Bahkan sekalipun tidak ada lagi alasan realistis atau masuk akal yang melayakkan saya terus melanjutkan perjuangan tersebut, saya akan berjuang demi alasan yang irasional dan abstrak. Sebuah alasan yang mampu menembus segala dimensi rasio dan rupa-rupa idealisme. Harapan yang tak lekang oleh waktu dan terus bertahan saat segala sesuatunya habis lenyap.
Kepo itu berarti kepengen tahu melulu sama urusan orang lain. Biasanya sih dengan rasa penasaran yang berlebihan luar biasa. Entah kata 'kepo' itu diserap darimana. Saya curiga itu dari bahasa Inggris 'care for' yang bermakna 'peduli'. Ahh... Tapi peduli dan kepo 'kan beda. Ternyata setelah dijelaskan, katanya kepo itu berasal dari bahasa Hokkian, 'kaypoh'. Konteksnya kayak ngobrol sama Oma-oma. Tau kan, pertanyaan tipikal kayak lagi kuliah dimana, sudah kerja atau belum, sudah punya pacar, kapan kawin dan berbagai pertanyaan dengan jawaban awkward lainnya.
Peduli itu tindakan ingin mengetahui keadaan seseorang agar bisa menolong. Peduli dilakukan dengan tetap menghormati privasi dan mendengarkan secara saksama. Peduli selalu berasosiasi dengan hal baik sebagai respon aksi atau simpati yang akan dilakukan, misalnya yang paling simpel yah berdoa. Nah, kalau Kepo cenderung ke arah penasaran yang berlebihan supaya bisa dapat bahan gunjingan atau gosip hot terbaru. Semua orang kepo itu sucks! Soalnya habis kekepoan orang itu 'terpuaskan', they will do no action! Justru malah bikin hal sepele jadi makin ribet.
Agak kasihan sih, karena akhirnya orang yang jadi korban 'kepo' akhirnya kapok dan menutup diri sama SEMUA bentuk perhatian yang tulus. Padahal, kita didesain untuk bersosialisasi dan peduli terhadap orang lain. Peduli dan bukan kepo! Tapi kalau mau diperhatikan, jangan-jangan para orang kepo yang suck itu pun adalah korban juga, korban kurang perhatian. Karena mereka haus perhatian, maka mereka menyalurkannya dengan bentuk kepo lalu bingung musti ngapain lagi, karena tidak biasa 'diperhatikan secara tulus'. Memprihatinkan, yah.
Haha! Bukan berarti akhirnya kita nggak mau kepo lagi. Insaf lalu jadi apatis, sih. Menurutku, itu respon yg ekstrem! Jangan pernah sok perhatian kalau kamu nggak pernah benar-benar berniat tulus untuk membantu atau peduli terhadap orang tersebut. Jangan suka nanyain 'mau didoain apa?', kalau itu hanya kedok untuk ngorek masalah orang, Sobat! Apalagi, kalau kamu-nya nggak pernah benar-benar niat mendoakan, itu namanya kepo! Orang macam begini yang merusak tatanan persahabatan yang tulus dan menyebarkan kepahitan kemana-mana.
Kalau kamu ada bakat untuk kepo, yuk 'energi negatif' itu disalurkan dengan cara positif. Nggak semua orang punya 'bakat' itu, teman! Jadilah pendengar yang baik dan perhatikan dari berbagai perspektif, kemudian, seusai memetakan akar masalahnya, saatnya kasih solusi. Bantuan simple dan praktis yang bisa segera diaplikasikan. Doakan dia, atau bantuin orang itu untuk rekonsiliasi dengan musuhnya, atau traktir dia makan siang seminggu karena dia lagi nggak ada duit, atau apa pun. Aksi! Nggak gampang loh. (Hehehe...Makanya, siapa suruh kepo?) Karena kita dikasih 2 kuping dan 1 mulut. Otak yang terletak di atas, hati sejajar dengan tangan di tengah dan kaki di bawah. Use them well! Ingatlah, ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan terjawab di dunia ini, demikian pula rahasia hati manusia, walaupun demikian tidak akan ada satu rahasia pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Paradoks yah? Hehehe.. Oleh karena itu, yuk saling peduli yang beralaskan respek secara wajar. Di situ seninya kepo! :)
Nama tekniknya WPAP atau Wedha's Pop Art Portrait. Teknik cerdas bikinan Pak Wedha Abdul Rasyid. Beliau adalah salah satu insan desain grafis yang paling disegani di negeri ini. Kampus saya, DKV Binus University, turut mengapresiasi sumbangsih beliau di ranah visual dengan Anugerah Samartharupa. Temen-temen seangkatan saya mungkin masih inget tokoh Lupus-nya Hilman. Naah, Pak Wedha-lah yang berjasa di balik semua ilustrasi novel jenaka itu. Tidak sampai di sana saja, keterbatasan penglihatan mendorong beliau untuk bereksperimen dengan bentuk-bentuk geometris tajam dan beragam intensitas warna, namun tetap mampu mencitrakan sosok yang dilukiskan. Melalui perjalanan panjang terciptalah WPAP yang akhirnya selesai dipatenkan bulan lalu.
Mengapa WPAP musti sampai dipatenkan? Jadi dengan adanya paten, memang berarti (semoga) tidak akan ada lagi kaos WPAP illegal versi Mangga Dua atau Tanah Abang, tapi sekaligus pula nggak boleh lagi ada desainer lain yang boleh pake teknik WPAP? Begitu tanya saya via message. "Heri," balas Beliau "Niatan awalku adalah 'memberi' sesuatu pada banyak orang/perupa. Nah, memberi itu sebaiknya sesuatu yang jadi milikku. Aneh sekali kalau aku memberi sesuatu pada orang lain, sedangkan sesuatunya itu milik orang lain juga. Untuk itulah aku urus patennya. Aku hanya ikhlas memberi pada temen2 yang bersedia bersama-sama mengangkat/ melestarikan WPAP sampai ke pentas dunia, sesuai mimpiku". Demikian percakapan saya dengan beliau dan makin besarlah rasa hormat saya kepada Empu Desain Grafis ini.
Ah... Saya jadi tersadarkan kembali. One simply can not give what he never has. And as a human being, we can never earn anything. That's why The greatest gift of salvation is given unto us for free, though it was not paid cheaply. A gift of an everlasting life called GRACE.
PS: Download wallpapernya sesuai ukuran Desktop kamu di www.warungsatekamu.org
Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka"
The Golden Rule, demikian kalimat ini dikenal. Rasanya bisa berbunyi seperti prasyarat (baca: janji, garansi) bahwa setiap kali menabur perbuatan kebaikan, akan berbalik balasan kebaikan setimpal. Namun, siapa berani jamin selalu terjadi seperti ini? Well, untuk hal remeh temeh macam sopan santun dan tata krama, pasti akan memperoleh respon yang sama. Kamu respek, saya pun respek. Anda sopan, kami segan. Tapi, kalau sudah menyangkut perbuatan yang lebih besar atau urusan massal, hei, Bung, itu lain soal! Akan selalu saja ada ditemui sikap tak tahu diri. Tidak tahu diuntung! Niat menolong malah jadi buntung. Tidak tahu balas budi! Sudah dibantu justru bikin merugi. Ah... Makan hati!
Tapi jika kita tengok sejenak, saya rasa memang tidak tepat jika Golden Rule diartikan semacam rule tabur-tuai. Toh, tidak dikatakan, apalagi dijamin, bahwa perbuatan baik akan selalu menuai dari manusia respon yang sesuai.
Memang, kita tidak seharusnya pula menaruh pikir pesimistis. Tidak lagi mau berperilaku bajik karena hilang harap akan menerima balasan yang realistis. Mungkin karena Golden Rule seharusnya memang diperlakukan sebagai rule dalam melakukan setiap tindak-tanduk perbuatan. Entah kelak dibalas dengan perlakuan yang serupa, atau sebaliknya hanya diperlakukan seperti angin lalu terlupa.
Hmmm... Kalau menilik lagi, memang pantas jika ajaran Tuhan ini dijuluki sebagai aturan emas. Dia sudah duluan menggagas, Dia pula yang juga telah menggenapinya sampai tuntas. Khalas! Karena kalau mengenang lagi, siapa sih yang layak menerima kasihNya yang sudah jauh lebih dulu terbukti? Tuhan sendiri memberi diri dan taat sampai mati. Mengembalikan hakikat mereka yang percaya padaNya jadi anak terkasih. Padahal, faktanya, oleh dosa kita semua dulunya musuhNya abadi. Memang benar keadilanNya tegas, tapi itu pun disertaiNya dengan kasih dan kesabaran yang tak terbatas! Buat dia, buat kamu, buat saya.
Aturan emas seperti yang Tuhan kita teladankan dan ajarkan. "Sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti yang Bapamu pun perbuat". Ahh... Kalau Bapa sudah kasih teladan dan kekuatan, buat seorang anak menjalani aturan emas atau aturan permata atau aturan berlian pun seharusnya tidak jadi persoalan. Bukankah sepantasnya seorang anak harus mencirikan kemiripan dengan bapanya dalam segala hal? Nah, termasuk pula dalam hal melakukan aturan... Upss, maksud saya teladan. Pertanyaannya adalah: sebagai anak, saya dan kamu sudah mencirikan Bapa atau belum, yah?
This bumper i made for DKV Binus Samartharupa 2010, my College Annual award for life achievement person on Indonesian Graphic Design and Animation work. On 2010, also chosen Mr. Wedha Abdul Rasyid, Illustrator of Lupus, Ninol and most fabulous for his original masterpiece: WPAP - Wedha Pop Arts Portrait. Do you know, according to the exploration beyond the world, WPAP is not the same style to Piccaso's Cubism and it's kind of different compared to another Pop Art mainstream? So, actually, Mr Wedha contribute a fresh style to design world. A rhythm of geometrical hard and block shapes, without any round edge. Instead using greyscale tone, WPAP contains some colorful schemes to capture the depth, but still, the character can be recognized well. That's the awesome part. The bumper is our tribute to his works. I'm so proud can make it done.





