Saya dan musuh saya adalah penggemar sejati. Kami saling mengagumi.
Karena segala gerak-gerik kami saling diawasi. Luar, dalam, lahir, batin, pendek kata kami saling mengenal. Kami saling mengecek perkataan, perilaku, status, komentar bahkan kalau bisa saling membaca pikiran. Sebab kami selalu saling mengetahui jika yang seorang salah langkah atau terpeleset lidah. Kamilah yang nomer satu menjadi pengadu! Saya dan musuh saya adalah dua fans terbesar yang saling mengidolakan. Menjijikan, tapi adanya memang demikian. Musuhmu adalah 'pengagum' terberatmu dan menjadikan seseorang musuh, sama saja mengagumi dia. Hoek!
Februari 01, 2012
Januari 24, 2012
Samartharupa 2010: Pak Wedha Abdul Rasyid
This bumper i made for DKV Binus Samartharupa 2010, my College Annual award for life achievement person on Indonesian Graphic Design and Animation work. On 2010, also chosen Mr. Wedha Abdul Rasyid, Illustrator of Lupus, Ninol and most fabulous for his original masterpiece: WPAP - Wedha Pop Arts Portrait. Do you know, according to the exploration beyond the world, WPAP is not the same style to Piccaso's Cubism and it's kind of different compared to another Pop Art mainstream? So, actually, Mr Wedha contribute a fresh style to design world. A rhythm of geometrical hard and block shapes, without any round edge. Instead using greyscale tone, WPAP contains some colorful schemes to capture the depth, but still, the character can be recognized well. That's the awesome part. The bumper is our tribute to his works. I'm so proud can make it done.
Januari 10, 2012
Samartharupa 2010 : Alm Pak Denny Djoenaid
This bumper i made for DKV Binus Samartharupa 2010, my College Annual award for life achievement person on Indonesian Graphic Design and Animation work. On 2010, chosen Mr. Denny A. Djoenaid, Master of Indonesia 2D animation. The bumper contains a few work during Mr. Djoenaid's life. I also use "When You Wish Upon A Star". A tribute to Mr. Denny, for he also learned from one of Disney's nine old man, the animator of Geppeto from Pinnochio.
Januari 03, 2012
Karunia dan Kasih dan Kasih Karunia
Syahdan, dua insan di negeri Sempurna
Yang kisahnya dinyanyikan sejak awal mula nada tercipta
Bahkan sejak riwayat galaksi ini masih belia
Himne yang sunyi tentang Karunia dan Kasih
Roman cinta yang membuat cemburu para batara
Menggelegak bagai nyala pawaka nirwana
Karena rasa cinta, keduanya berpadu
Berbeda tapi saling lebur
Terpisah tapi saling satu
Cacat dan tak pernah sempurna tapi saling jadi utuh
Ketika Karunia menyebar benih karya dan karsa
Kasih menyemai rasa
Ketika Karunia memberikan harta upeti
Kasih mempersembahkan jantung hati
Ketika Karunia berpayah dalam empedu dan darah
Kasih mengorbankan nafsu dan merengkuh gairah
Karunia membangkitkan, menguatkan, menjamah sensorik dan motorik
Kasih merangkul Karunia, bertelut duli mental dan fisik.
Pesona mereka memikat siapa pun jauh ke dalam sumsum
Kata-kata nian tak pelak mampu merangkum
Demikian pula selaksa guratan, seribu meriam diam tak berdegum
Asmara mereka menggelora karena keduanya saling berbagi dan berserah
Tak pusing diri karena tersingkir jauh para angkara
Jangan pisahkan Karunia dengan Kasih
Karena jika Karunia tak beriringan dengan Kasih, sia-sialah segala upaya
Sebab kalau Karunia dan Kasih tak berpadu, padamlah semua cahaya
Semesta Sempurna jadi gelap
Tetap berputar, hanya saja dalam gelap yang sempurna
Hari berganti dan waktu berlalu, hanya saja dalam senyap yang sempurna
Bosan dan kosong segera menyergap seperti maling
Kemudian sobek. Sebab cakar, tulang, duri dan taring
Jangan pisahkan Karunia dengan Kasih
Keduanya diciptakan untuk saling melengkapi
Keduanya hidup menjadi saksi di bawah cakrawala
Bahwa Kasih Karunia itu bukan sekedar legenda
Yang mengalir sejak nyanyian purbakala
Yang tariannya masih mantap walau luntur dan sesekali terseok
Masih disenandungkan yang ubanan kepada yang orok
Ketika fajar pertama melagukan nyanyian tentang Karunia dan Kasih
Kasih Karunia yang memberkati dan menguduskan mereka.
- After Life. 30.12.11. RBC
Desember 29, 2011
Lirik Kontroversi Minggu Ini: "O Betapa Indahnya"
O Betapa indahnya dan betapa eloknya
Bila saudara seiman hidup dalam kesatuan
Bak urapan di kepala Harun, yang ke janggut dan jubahnya turun
Seperti embun yang dari Hermon mengalir ke bukit Sion
Kesana t'lah dip'rintahkan Tuhan agar berkat-berkat dicurahkan
Kehidupan untuk selamanya, O betapa indahnya!
Kenapa Kontroversi?
Lagu ini kerapkali dibawakan dalam melodi dangdut untuk ibadah bertajukkan fellowship atau kesatuan berjemaat. Lagunya riang, chord minornya banyak, didukung pula dengan beatnya yang asik. Akibatnya, beberapa MC centil jadi suka lupa diri dan tak kuasa menahan hasrat dangdut-nya. Sambil 'memaksa' para jemaat, mereka mengancam "Hayo, semua jempolnya diangkat! Kalo nggak, kita ulangi lagu ini dari awal lagi!". Lalu jemaat yang malang itu terpaksa mengangkat jempol dan berjoged dengan pasrah. Pokoknya seru, deh! :)
Oke, lalu apa yang menyebabkan lagu yang dikutip dari Mazmur 133 tentang nyanyian Ziarah Israel ini kontroversi? Bukan tentang dangdut-nya atau MC yang suka maksa itu, tapi penggunaan imbuhan yang keliru. "Bak urapan di kepala Harun, yang ke janggut dan jubahnya turun". Jubah yang turun! Eww... Pornografi dan pornoaksi dalam ibadah, nih. Hehehe!
Solusi:
Dalam beberapa training MC dan Pemusik yang pernah saya hadiri, lagu ini sering jadi contoh mengenai "Singing with Understanding". Jangan sampai kita terbuai dengan asiknya melodi plus paket joged-joged lalu mengabaikan makna lirik yang kita nyanyikan. Yah, paling tinggal dikoreksi saja mengenai pemilihan dan penempatan imbuhan yang benar, toh. Simple! Beberapa gereja atau persekutuan yang menggunakan lagu ini, mengganti liriknya menjadi 2 versi. Versi pertama: "Bak urapan di kepala Harun, yang ke janggut dan ke jubah turun" atau versi berikutnya: "Bak urapan di kepala Harun, yang ke janggut dan turun ke jubah". But somehow, saya lebih suka versi yang pertama karena masih berima: "Harun" dan "Turun", kalo "Harun" dan "Jubah", kedengarannya kurang berima, kurang sedap, dan kurang melayu. So, ayo jempolnya diangkat, pinggul digeol, kita dangdutan lagi! :)
_______________________________________________________________________________
Kekristenan punya banyak lagu. Sejak Mazmur zaman Daud, Hymne zaman Fanny Crosby sampai Pujian di Zaman Sydney Mohede ini. Bersyukurlah bahwa Allah banyak menginspirasikan lagu-lagu bagus untuk manusia pakai memuji dan menyembah Dia. Tapi, namanya manusia dengan segala keterbatasan kita dalam menyusun kata-kata, sering didapati lirik lagu pujian yang salah kaprah atau konteksnya jadi agak ngaco.
Nah, berikut ini beberapa lagu yang liriknya agak kontroversi menurut beberapa pembicara yang pernah saya dengar atau pun berdasarkan apa yang sejauh ini saya pahami Alkitab katakan. Seri ini sama sekali tidak bermaksud untuk menghakimi sang penulis lagu, tapi untuk kita menghindari kesalahpahaman dan belajar kritis yang bertanggung jawab pula atas apa yang mulut kita nyanyikan. Ada diskusi, teman-teman? Silakan comment dan masukannya yuk! Dilarang menjelek-jelekkan denominasi lain yah :)
Desember 25, 2011
Wallpaper Natal: Come Thou Long Expected Jesus
Cinta sebesar apa yang membuat Tuhan sampai rela turun takhta sorga?
Afeksi macam mana yang bikin Sang Khalik mau reduksi pribadi?
Jadi bayi manusia yang lemah, menangis, dan mengompol?
Tentu saja buat sebagian orang, itu gagasan tolol
Allah jadi manusia? Sungguh ide gila luar biasa!
Sebab, memang demikian besar cinta Sang Kasih
Ajaib dan liarNya mustahil terselami.
Sebab, memang sesungguhnya hal terbesar yang dibutuhkan segala bangsa adalah anugerah
Kemudian Allah sendiri mengaruniakan diriNya jadi hadiah
Sebab, memang Mesias yang lama dinanti itu sudah jadi manusia.
Bertulang. Berdaging. Berdarah. Bersuara.
Sebab seorang Anak telah lahir untuk kita,
seorang Putera telah diberikan untuk kita.
Namanya dikenal Imanuel, Tuhan beserta kita!
Maukah percaya pada-Nya?
Kamu boleh pakai gambar ini untuk warta jemaat, wallpaper slide, publikasi Natal, dan sebagainya sepanjang nonkomersil atau pelayanan nirlaba (tidak untuk diperjualbelikan). Saya akan senang sekali jika kamu juga mencantumkan tautan sumber alamat blog ini pula disana. Download wallpaper ukuran: 1024×768 | 1280×800 | 1366×768: www.warungsatekamu.org
Desember 24, 2011
Little Drummer Boy
One of my favorite Carol is "Little Drummer Boy". The lyric tells a story about a poor boy that had nothing as a gift to honour the King that just born, Jesus. So, he played his drum and sing for Him, as it is the best that he can offer. Although indeed the story is just fictional tale, (Yes, you can't find any verses in the Bible tells about the drummer boy. Hehehe!). This song captures the spirit of Christmas: giving all the best gift that we have to Jesus. Our voice, our talent, our heart, our life, or in short everything we are. Christmas is a day to celebrate that God who have first gave Himself as a present to save us from our sins.
The card is designed for Music and Art Department of PO Binus. I wrote each name and post them to their own Facebook wall. The tin design is based on one famous brand of cookie. Well, who had never take their mother cookie tin or bucket and pretend as a drummer on childhood. Don't forget the pencil or spoon or any stick that we can find. A super prescious moment for ourself, that only ourself who understand what song we played without any melody or just a simple humming. So, in this Christmas, have you offer God your best that you can give? A rhythm to invite Him as a Saviour in your heart or maybe a simple beat note of repentance? I think, HE also will smile at you, too! :)
Desember 22, 2011
Tiga Hal
Kalau kata orang, ada tiga hal yang tidak bisa kita genggam sekaligus penuh utuh: Uang, Tenaga, dan Waktu. Saat masih muda kita punya banyak waktu melakukan apa yang kita suka dan tubuh yang belia, tapi tak punya cukup banyak uang. Ketika bekerja, kita memiliki banyak uang dan tenaga yang kuat, namun tak punya waktu lagi untuk leyeh-leyeh dan rehat. Lalu di masa tua, kita akan menuai kenikmatan nafkah jerih payah itu dengan waktu luang yang berlimpah, hanya sayangnya tenaga dan kesehatan sudah nyaris musnah
Berbahagialah mereka yang menghargai setiap remah-remah anugerah yang dikaruniakan tersebut pada waktu yang tepat, dengan cara yang tepat, pula bersama orang-orang yang tepat. Karena yang dalam genggaman itu mungkin sebenarnya cuma titipan, atau dengan kata lain, pinjaman yang tak mungkin selamanya dapat dipertahankan.
Sederhana Tapi Berbobot
Animasi, dwimatra atau trimatra, selalu menghipnotis hampir semua anak sejak kecil. Siapa sih yang dalam hidupnya belum penah menyaksikan minimal satu episode Doraemon? Ilusi yang tercipta dari sekumpulan gambar diam yang ditampilkan secara beruntun, lalu diiringi vokal dan musik latar, menggagas sebuah kisah yang seolah-olah beneran hidup. Sektor industri kreatif lokal yang dengungnya kian nyaring sejak awal mula kabinet periode ini, turut mengeliatkan gairah perguruan tinggi dan sekolah kejuruan membuka jurusan animasi. Namun, mengapa sampai sekarang animasi lokal masih belum juga bersinggasana di ranah sendiri ini?
"Coba kalau bikin animasi itu yang simple-simple aja tapi berbobot", mengutip istilah Alm. Pak Denny A. Djoenaid di depan kelas perkuliahan saya. Sosok empu animasi dua dimensi kebanggaan Indonesia yang gaya mengajarnya santai, iseng, easy going dan mengayomi. Animasi itu, selain "menjual" visual yang cantik, juga sarat dengan budaya yang melatarinya. Nggak bisa kita paksa ksatria yang berubah pake sabuk, berpedang laser, melawan monster di daerah pasar ikan dalam negeri. Nggak nyambung sama pikiran ala bangsa kita yang cenderung gemar berkelakar ringan atau komedi kisah sehari-hari. Mungkin inilah resep rahasia kesuksesan seri kartun dua bocah botak dan kisah mereka di kampung melayu seberang. Animasi yang tetap berbalutkan kekhasan ciri budaya sendiri. Betul betul betul?
Sungguh sebuah kesempatan langka bahwa saya dan teman-teman sempat mengerjakan proyek tugas kuliah iklan "Garuda vs Tikus" di bawah supervisi beliau. Siapa yang sangka animasi 2D bertema anti korupsi ini kelak diputar pada festival Kumpul Animasi Jakarta 2010, memenangkan Indonesian Graphic Design Award 2009 dan saat artikel ini ditulis, diputar pula pada International Berlin Short Film Festival, Jerman. Yang patut disayangkan, tak satu pun momen ini sempat dinikmati oleh beliau yang keburu berpulang. Perguruan tinggi, sekolah, dan institusi yang mengajarkan animasi masih butuh sesepuh-sesepuh turun gunung. Ahli animasi yang berkecimpung secara mendalam, namun tak pelit pula berbagi pengalaman dan menurunkan ilmu. Mahasiswa pun harusnya tidak boleh asal terima jadi saja. Animasi itu dinamis, demikian pula industri dan perkembangan gayanya. Bekal yang diwariskan selama menempuh edukasi harusnya not only taken for granted, tapi dikembangkan dengan luwes, namun tetap menjunjung kekhasan lokal. Jangan lupa, pemerintah pun juga punya andil besar dalam mengolah ladang kreatif jika sudi mengucurkan support financial dan investment yang memadai. Tidak sedikit curhat kakak-kakak alumnus yang rela bekerja lintas negara demi menjaga asap dapur tetap ngebul, sangking desperate-nya terhadap industri animasi lokal. Nah, kalau semua pihak sudah ambil andil, rasanya suatu hari nanti tidak tak ternyana bahwa animasi lokal pun berjaya. Well, when your heart is in your dream, no request is too extreme, lah!
"Coba kalau bikin animasi itu yang simple-simple aja tapi berbobot", mengutip istilah Alm. Pak Denny A. Djoenaid di depan kelas perkuliahan saya. Sosok empu animasi dua dimensi kebanggaan Indonesia yang gaya mengajarnya santai, iseng, easy going dan mengayomi. Animasi itu, selain "menjual" visual yang cantik, juga sarat dengan budaya yang melatarinya. Nggak bisa kita paksa ksatria yang berubah pake sabuk, berpedang laser, melawan monster di daerah pasar ikan dalam negeri. Nggak nyambung sama pikiran ala bangsa kita yang cenderung gemar berkelakar ringan atau komedi kisah sehari-hari. Mungkin inilah resep rahasia kesuksesan seri kartun dua bocah botak dan kisah mereka di kampung melayu seberang. Animasi yang tetap berbalutkan kekhasan ciri budaya sendiri. Betul betul betul?
Sungguh sebuah kesempatan langka bahwa saya dan teman-teman sempat mengerjakan proyek tugas kuliah iklan "Garuda vs Tikus" di bawah supervisi beliau. Siapa yang sangka animasi 2D bertema anti korupsi ini kelak diputar pada festival Kumpul Animasi Jakarta 2010, memenangkan Indonesian Graphic Design Award 2009 dan saat artikel ini ditulis, diputar pula pada International Berlin Short Film Festival, Jerman. Yang patut disayangkan, tak satu pun momen ini sempat dinikmati oleh beliau yang keburu berpulang. Perguruan tinggi, sekolah, dan institusi yang mengajarkan animasi masih butuh sesepuh-sesepuh turun gunung. Ahli animasi yang berkecimpung secara mendalam, namun tak pelit pula berbagi pengalaman dan menurunkan ilmu. Mahasiswa pun harusnya tidak boleh asal terima jadi saja. Animasi itu dinamis, demikian pula industri dan perkembangan gayanya. Bekal yang diwariskan selama menempuh edukasi harusnya not only taken for granted, tapi dikembangkan dengan luwes, namun tetap menjunjung kekhasan lokal. Jangan lupa, pemerintah pun juga punya andil besar dalam mengolah ladang kreatif jika sudi mengucurkan support financial dan investment yang memadai. Tidak sedikit curhat kakak-kakak alumnus yang rela bekerja lintas negara demi menjaga asap dapur tetap ngebul, sangking desperate-nya terhadap industri animasi lokal. Nah, kalau semua pihak sudah ambil andil, rasanya suatu hari nanti tidak tak ternyana bahwa animasi lokal pun berjaya. Well, when your heart is in your dream, no request is too extreme, lah!
Artikel ini ditulis untuk rubrik 'Opini' mahasiswa di majalah CHIP edisi spesial Animasi yang diterbitkan berbarengan dengan Fresh n Brite 2011 DKV Binus University. Big thanks buat Pak Tunjung & Animation - School of Design, Binus University buat kesempatan beropini di sini. :)
Desember 12, 2011
Rasanya Kenal Sama Gambar Ini
Jumat sore lalu, sepulang kantor, saya browsing di Gramedia, Citraland. Waktu iseng-iseng ngecek salah satu majalah rohani Kristen bulan ini, nemu ilustrasi saya yang dipakai dalam salah satu artikelnya. Hehehe! Actually, they used it without my permission (and even don't include my blog link for the source!) tapi tak apa lah, this is Christmas, my man! yang penting Tuhan Yesus harus makin besar, aku harus makin kecil :)
Merry Christmas, everybody!
PS: Kamu juga boleh pakai gambar ini untuk Slide atau warta Natal di gereja/persekutuan kamu, koq. Yuk sebarin sukacita natal, makin rame, makin seru. Cek juga versi wallpapernya disini: Wallpaper Natal Pertama
Merry Christmas, everybody!
PS: Kamu juga boleh pakai gambar ini untuk Slide atau warta Natal di gereja/persekutuan kamu, koq. Yuk sebarin sukacita natal, makin rame, makin seru. Cek juga versi wallpapernya disini: Wallpaper Natal Pertama
Desember 07, 2011
Lirik Kontroversi Minggu Ini: "Anak Dalam Malam?"
Malam kudus sunyi senyap siapa yang b'lum lelap
Ayah bunda yang tinggallah t'rus, jaga Anak yang Maha Kudus
Anak dalam malaf, Anak di dalam malaf.
Hai, lihatlah! di Efrata t'rang besar turunlah
Waktu tentra surgawi megah puji Allah sebab nikmatnya
Ingat dunia yang g'lap, ingatlah dunia yang g'lap
Karna salam amat besar patutlah bergemar
Bagi dunia yang t'lah tercerai dari Allah di b'ri Almasih
Jadi pohon khalas, jadi k'lak pohon khalas.
Siapa yang selama bulan Desember tahun ini belum nyanyi lagu "Malam Kudus"? Lagu populer khas natal yang berjudul asli "Stille Nacht, Heilige Nacht" ini begitu sederhana dan punya sejarah penciptaan yang tak kalah memikat. Konon, lagu kepepet ini dibikin Joseph Mohr pada tahun 1818 gara-gara orgel gereja tiba-tiba rusak di malam natal sedangkan beberapa jam lagi jemaat akan mulai datang. Jadilah lagu ini dikumandangkan pertama kali di malam itu dengan alunan gitar dan menggetarkan seluruh jemaat akan syahdunya inkarnasi Allah jadi manusia dalam Yesus Kristus.
Kenapa Kontroversi?
Ada banyak versi lirik berbahasa Indonesia dari lagu ini. Salah satu yang cukup sering dinyanyikan adalah versi di atas. Tapi, hayo jujur deh, siapa yang suka bingung dengan kata-kata aneh kayak "Malaf" atau "Khalas" yang nyelip di dalamnya. Ditambah lagi, kadang-kadang si tukang ketik slide lirik lagu suka copy-paste dari internet (dan last minute juga, hehehe), maka jadilah liriknya sering ketukar-tukar berdasarkan padanan kata yang menurut dia kurang lebih sama bunyinya. Yang seharusnya "Anak di dalam malaf" bisa berubah jadi "Anak dalam malam" atau "Anak dalam malak". Mirip sih antara malaf, malam, dan malak. Tapi, kalau dinyanyiin, jadi nggak jelas bin nggak nyambung, sih. Apakah merujuk ke anak yang suka malam-malam pergi dugem gitu? Atau maksudnya sang anak lagi dibekap malak (malaikat) dalam jubah?
Lirik bait ke-3 juga kadang suka terucap tanpa ngerti arti sebenarnya dari "khalas". Cuma, mungkin karena bunyinya benar-benar unik, bagian ini suka luput tergantikan dengan kata nggak nyambung seperti kasus "malaf" itu
Solusi:
Syukurlah, rasa penasaran ini akhirnya terobati. Iseng-iseng, saya googling arti kata "malaf", akhirnya mendapat juga penjelasannya dari sini. Malaf dalam kosakata bahasa Indonesia serapan dari melayu yang sudah mulai punah, memiliki arti palungan atau manger dalam bahasa Inggris. Sesuai pula dengan Alkitab terjemahan Leydekker dari Lukas 2:12: "Maka 'inilah tanda padamu: kamu 'akan mendapat ka`anakh 'itu terbabat dengan lampin 2, dan baring 2 didalam maxlaf 'itu.". Sedangkan "khalas" ternyata masih tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sebuah kata verba yang berarti "berakhir"; atau "selesai". Mungkin bermaksud mengisahkan tentang Almasih, Sang Juruselamat, yang memulihkan keterceraian manusia dengan Allah di atas kayu salib dengan pengorbanan yang total, lunas dan selesai. Ragam bahasa Indonesia ternyata kaya banget, yah! Sekarang, pas lagu "Malam Kudus" dinyanyikan pada sesi penyalaan lilin di gereja kamu masing-masing, kamu bisa dong nyanyi pejam-pejam mata. Antara menghayati indahnya karya Allah lewat natal atau mungkin juga karena kamu sudah hafal dan tahu lirik yang benar dari lagu ini. :)
_______________________________________________________________________________
Kekristenan punya banyak lagu. Sejak Mazmur zaman Daud, Hymne zaman Fanny Crosby sampai Pujian di Zaman Sydney Mohede ini. Bersyukurlah bahwa Allah banyak menginspirasikan lagu-lagu bagus untuk manusia pakai memuji dan menyembah Dia. Tapi, namanya manusia dengan segala keterbatasan kita dalam menyusun kata-kata, sering didapati lirik lagu pujian yang salah kaprah atau konteksnya jadi agak ngaco.
Nah, berikut ini beberapa lagu yang liriknya agak kontroversi menurut beberapa pembicara yang pernah saya dengar atau pun berdasarkan apa yang sejauh ini saya pahami Alkitab katakan. Seri ini sama sekali tidak bermaksud untuk menghakimi sang penulis lagu, tapi untuk kita menghindari kesalahpahaman dan belajar kritis yang bertanggung jawab pula atas apa yang mulut kita nyanyikan. Ada diskusi, teman-teman? Silakan comment dan masukannya yuk! Dilarang menjelek-jelekkan denominasi lain yah :)
Desember 03, 2011
Robot dan Monster: Kotak
Kita tinggal dalam rumah-rumah berbentuk kotak. Keluar masuk, duduk bercengkrama dan menatap alam luar lewat pintu, kursi dan jendela kotak. Kita memandang layar kotak ajaib yang berisikan berita yang tidak perlu kita telan dan suara yang tak perlu kita dengar. Kita bepergian dalam kotak beroda, berasap dan menghembuskan monoksida beracun. Kita saling berbicara dan mengetik pesan pada kotak. Makananku dan minumanku dikemas dalam kotak. Lembaran-lembaran buku kotak, radio kotak, kalender dan petunjuk arah kotak.
Kotak-kotak menginvasi seluruh Undercity dan Kota Sempurna. Tak ada satu pun yang tidak terjamah. Seperti virus kerompeng yang merasuk lalu menyebar sampai ke pembuluh-pembuluh. Lalu kotak itu menitis dalam setiap sirkuit Robot, darah Monster dan urat Cyborg. Ada kotak-kotak dalam masyarakat Undercity, Sempurna. Para monster tidak berani lagi bergaul terang-terangan dengan kaum robot. Seluruh sistem menjabarkan doktrinasi sahih yang memburuk-rupakan citra satu sama lain. Para tetua pun tidak membantu, alih-alih makin giat menyebarkan batas-batas dan pengkotakan yang berkembangbiak seperti kabut pekat. Parahnya, generasi yang sudah jadi lembek dan bodoh ini bahkan serta merta menelan begitu saja rupa-rupa pengajaran dan aturan-aturan usang itu. Ahh... Seperti tidak cukup saja penjajahan para raksasa di atas tanah sana yang memaksa bangsa Kafilah ini berdiam dalam terowongan. Masih saja perpecahan dan prasangka atas nama firasat dan akar-akar lama warisan leluhur sejak Tarian Purbakala.
Dahulu, kita percaya sabda para bintang di atas sana bahwa seluruhnya adalah satu tubuh yang sempurna. Tapi bahkan kini kaum Kafilah Undercity takut menyanyikan melodi pembebasan kepada Sang Sempurna, jangan-jangan nanti aku tertuduh terbang pada satu sayap. Seluruh kota cuma jadi sayup-sayup karena warganya berbisik malu-malu. Enggan bernyanyi lagi pujian yang lepas dan bebas. Tidak ada lagi tarian monster, tidak ada lagi himne robot. Seluruh kosmis Sempurna jadi tak berwarna, membosankan, mati dibekap kotak-kotak. Sesekali kita perlu bertanya kepada langit, benarkah bumi ini bulat dan galaksi ini seperti seonggok gumpalan gas, atau cuma kotak-kotak?
Kotak-kotak menginvasi seluruh Undercity dan Kota Sempurna. Tak ada satu pun yang tidak terjamah. Seperti virus kerompeng yang merasuk lalu menyebar sampai ke pembuluh-pembuluh. Lalu kotak itu menitis dalam setiap sirkuit Robot, darah Monster dan urat Cyborg. Ada kotak-kotak dalam masyarakat Undercity, Sempurna. Para monster tidak berani lagi bergaul terang-terangan dengan kaum robot. Seluruh sistem menjabarkan doktrinasi sahih yang memburuk-rupakan citra satu sama lain. Para tetua pun tidak membantu, alih-alih makin giat menyebarkan batas-batas dan pengkotakan yang berkembangbiak seperti kabut pekat. Parahnya, generasi yang sudah jadi lembek dan bodoh ini bahkan serta merta menelan begitu saja rupa-rupa pengajaran dan aturan-aturan usang itu. Ahh... Seperti tidak cukup saja penjajahan para raksasa di atas tanah sana yang memaksa bangsa Kafilah ini berdiam dalam terowongan. Masih saja perpecahan dan prasangka atas nama firasat dan akar-akar lama warisan leluhur sejak Tarian Purbakala.
Dahulu, kita percaya sabda para bintang di atas sana bahwa seluruhnya adalah satu tubuh yang sempurna. Tapi bahkan kini kaum Kafilah Undercity takut menyanyikan melodi pembebasan kepada Sang Sempurna, jangan-jangan nanti aku tertuduh terbang pada satu sayap. Seluruh kota cuma jadi sayup-sayup karena warganya berbisik malu-malu. Enggan bernyanyi lagi pujian yang lepas dan bebas. Tidak ada lagi tarian monster, tidak ada lagi himne robot. Seluruh kosmis Sempurna jadi tak berwarna, membosankan, mati dibekap kotak-kotak. Sesekali kita perlu bertanya kepada langit, benarkah bumi ini bulat dan galaksi ini seperti seonggok gumpalan gas, atau cuma kotak-kotak?
November 27, 2011
Lirik Kontroversi Minggu Ini: "Ku tak Pandang dari Greja Mana"
Ku tak pandang dari greja mana
Asal kau berdiri di atas FirmanNya
Kalau hatimu sperti hatiku
Kaulah saudara dan saudariku
Kenapa Kontroversi?
Kayaknya sepintas agak-agak interdenominasi, tapi menurut kritik: "Kalau hatimu sperti hatiku"? Siapa aku sampai hatimu harus sperti hatiku? Kalau aku menikmati Allah lewat gaya yang lompat-lompat bersemangat seperti teman-teman karismatik, apakah aku harus berubah jadi tenang dan khusyuk seperti teman-teman injili?
Janganlah kita sampai jatuh dalam menghakimi hati orang dan penyembahan yang keluar dari hatinya menurut standar hatiku sendiri, namun haruslah menurut standar yang berkenan dan layak kepada Tuhan. Seperti yang ditulis di Roma 12. (Ayo dibaca dulu! Hehehe!) Intinya adalah hati kita semua harus menyerupai hati Kristus. Itu jauh lebih utama.
Solusi:
Yah, kalo sampe dipikirkan sedetil itu, lumayan make sense juga, sih. Mendingan ganti lagu saja, deh.
"Aku gereja, Kaupun Gereja. Kita sama-sama Gereja. Dan pengikut Yesus di seluruh dunia. Kita sama-sama gereja. Gereja bukanlah gedungnya dan bukan pula menaranya. Bukalah pintunya, lihat di dalamnya, gereja adalah orangnya!"
Lagu yang sama-sama ceria dan jauh lebih interdenominasi. :)
_______________________________________________________________________________
Kekristenan punya banyak lagu. Sejak Mazmur zaman Daud, Hymne zaman Fanny Crosby sampai Pujian di Zaman Sydney Mohede ini. Bersyukurlah bahwa Allah banyak menginspirasikan lagu-lagu bagus untuk manusia pakai memuji dan menyembah Dia. Tapi, namanya manusia dengan segala keterbatasan kita dalam menyusun kata-kata, sering didapati lirik lagu pujian yang salah kaprah atau konteksnya jadi agak ngaco.
Nah, berikut ini beberapa lagu yang liriknya agak kontroversi menurut beberapa pembicara yang pernah saya dengar atau pun berdasarkan apa yang sejauh ini saya pahami Alkitab katakan. Seri ini sama sekali tidak bermaksud untuk menghakimi sang penulis lagu, tapi untuk kita menghindari kesalahpahaman dan belajar kritis yang bertanggung jawab pula atas apa yang mulut kita nyanyikan. Ada diskusi, teman-teman? Silakan comment dan masukannya yuk! Dilarang menjelek-jelekkan denominasi lain yah :)
November 26, 2011
Wallpaper Seri Doa Bapa Kami

Bapa kami yang di sorga,
dikuduskanlah nama-Mu.
Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu,
di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,
dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga telah mengampuni
orang yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.
[Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya]
Amin
PS: Download wallpapernya sesuai ukuran desktop kamu dan baca juga renungannya di www.warungsatekamu.org
November 21, 2011
Robot dan Monster: Tarian Kemenangan
Robot Kelabu itu terkekeh-kekeh. Rahangnya yang berkarat berkeriut
naik turun seiring buncahan-buncahan gelak terdengar dari tawanya yang
dalam namun tetap teratur. Ha.. Ha.. Ha... Ya, robot itu pun selalu
tertawa dengan anggun begitu. "Dasar monster-monster kikuk." Gumamnya
sambil memperhatikan tarian-tarian fantastis mereka. Dia jauh lebih tua
dari kaleng minyak Dorothy di Oz atau kala Atom baru saja ditemukan
Osamu Tezuka. Bagi Revo, demikian robot itu memperkenalkan dirinya,
segala sesuatu mesti terstruktur dan terorganisir barulah namanya
hidup. Metropolis Sempurna hancur jika tidak ada barang bernama hukum.
Tapi saat ini mereka tidak berada di Metropolis lagi. Revo si Kelabu terjebak dalam satu terowongan bawah tanah, Undercity. Metropolis Sempurna, di atas sana, sedang dikuasai raksasa-raksasa tolol berotak bawang. Setiap hari kerjanya melempar batu ke tiang-tiang dan saling membakar apa yang tersisa dari kereta dan Rumah Putih. Kekacauan dimana-mana. Walikota sudah lama mati. Kini yang tersisa hanya boneka manekinnya yang disumpal hati baboon. Buronan dan tawanan perang bergerilya di Undercity. Pelan-pelan jumlah mereka bertambah banyak oleh pendatang dari kanal lain, atau sebagian pergi mencari peruntungannya di liang-liang lain. Shelter, pusat gorong-gorong kota, dirayapi dengan Robot reot, Monster mata satu atau Cyborg canggih yang setiap hari bergabung mencari perlindungan. Para pendatang aman di sana, karena para Gigantis takut kegelapan. Mereka juga tidak mau repot-repot mencari kutil dan mengisap cacing dalam tanah. Biarlah biawak-biawak itu berkembang biak dahulu, nanti urusan nanti. Demikian pikir para Gigantis.
Malam ini, adalah Halo ke sebelas. Shelter semakin penuh sesak dengan keramaian warga Undercity. Robot-robot kecil duduk diam digendong oleh Ayah atau Ibunya yang sibuk memilih mineral untuk santapan Kenduri. Mereka sudah hampir seharian disana. Memilih, menawar, lalu pergi ke kios sebelah lalu memulai lagi perdebatan alot dengan pedagang-pedagang. Bau besi tua bercampur keringat dari 8 ketiak, sungguh Pasar itu bukan tempat untuk berlama-lama berdiri.
Lalu tiba-tiba di tengah kerumunan, kericuhan itu terjadi. Costa si Jangkung dan Marty si Berbulu. Dua monster muda yang meledak-ledak. Dengan girang mereka berteriak seperti monster gila. "Kita menang! Kita menang!" jerit Marty melompati peti zamrud dan krisolit dengan lihai. Tidak satu pun permata-permata itu jatuh berserak. "Gigantis sudah kalah. Musuh sudah musnah Kita tidak perlu jadi babu!".Jogetnya senang. Telinganya naik turun dan tanduk rusanya berkilat-kilat gagah. "Benarkah demikian?" Sahut seorang monster tua di ujung jalan sana. "Iya! Aku lihat kejadiannya. Hore! Rantai-rantai sudah lepas. Kawat duri itu sudah diangkat dan sebentar lagi, cihuy, jalan menuju Metropolis akan terang benderang!" Costa menimpali.
Bangsa Monster senang sekali berdansa dan menari. Mereka ahli olah jasmani. Gerakannya kadang liar seperti serigala tapi tak jarang gemulai dengan satu irama seperti angsa. Dan jika satu monster menari, biasanya akan diikuti dengan beratus-ratus pasang monster lainnya. Hal itu lazim dilakukan di pesta-pesta minum atau pernikahan Undercity, tapi kali ini, di tengah pasar? Alamak! Lalu segera saja ratusan monster itu berjingkrak, melompat, menepuk, bergoyang, meliuk dan menari dalam satu irama. Satu baris demi satu baris, monster yang baru datang bergabung. Mereka meletakkan pikulan dan koper-koper di dasar Shelter dan tanpa basa-basi menggabungkan diri dengan alunan 'hey' dan 'hoy' para monster. Setelah bergabung dua lagu, baru sang pendatang berbincang. Ada apa gerangan sampai kita menari begini? Revo menepuk jidatnya. "Kaum rendah tak berintelek."
Namun segera saja umpatannya tak sempat berlanjut. Tangan-tangan ramping menariknya ke tengah lingkaran. "Maaf! Excuse me! Hahaha" Revo tertawa canggung tapi sopan, "Maaf, tapi anda salah orang. Aku tak bisa menari!". Dia meronta melepaskan diri dari cengkraman hangat tentakel-tentakel itu. "Tak perlu sungkan, Sobat! Ini waktunya berdansa!" Ujar si tuan Tentakel. "Sungguh, aku tidak bisa, maaf.. " Lalu Revo tidak ingat sisanya. Langit gelap, lampu-lampu tiba-tiba meredup dan sepertinya ada kilasan-kilasan cahaya dan sonar yang mendengung memekak telinga. Para cyborg bersayap dan berpistol perak. Darah dan minyak berserakan lalu gelap seperti ada ingatan yang hilang atau terhapus karena terlalu malu untuk dikenang. Kenangan kebenaran yang sepotong itu lebih berbahaya daripada ketidakmengertian total.
Sejak itu yang langit-langit Undercity tahu hanyalah dua fakta: Para monster itu biadab tak berakal dan Kaum robot itu angkuh tak berhati. Kemenangan terhadap gigantis, kawat-kawat yang terangkat dan terowongan terang benderang seolah jadi topik kusam dibanding permusuhan rakyat Robot dan Monster. Inilah riwayat Undercity, reruntuhan terowongan bawah tanah Metropolis, kota Sempurna.
Tapi saat ini mereka tidak berada di Metropolis lagi. Revo si Kelabu terjebak dalam satu terowongan bawah tanah, Undercity. Metropolis Sempurna, di atas sana, sedang dikuasai raksasa-raksasa tolol berotak bawang. Setiap hari kerjanya melempar batu ke tiang-tiang dan saling membakar apa yang tersisa dari kereta dan Rumah Putih. Kekacauan dimana-mana. Walikota sudah lama mati. Kini yang tersisa hanya boneka manekinnya yang disumpal hati baboon. Buronan dan tawanan perang bergerilya di Undercity. Pelan-pelan jumlah mereka bertambah banyak oleh pendatang dari kanal lain, atau sebagian pergi mencari peruntungannya di liang-liang lain. Shelter, pusat gorong-gorong kota, dirayapi dengan Robot reot, Monster mata satu atau Cyborg canggih yang setiap hari bergabung mencari perlindungan. Para pendatang aman di sana, karena para Gigantis takut kegelapan. Mereka juga tidak mau repot-repot mencari kutil dan mengisap cacing dalam tanah. Biarlah biawak-biawak itu berkembang biak dahulu, nanti urusan nanti. Demikian pikir para Gigantis.
Malam ini, adalah Halo ke sebelas. Shelter semakin penuh sesak dengan keramaian warga Undercity. Robot-robot kecil duduk diam digendong oleh Ayah atau Ibunya yang sibuk memilih mineral untuk santapan Kenduri. Mereka sudah hampir seharian disana. Memilih, menawar, lalu pergi ke kios sebelah lalu memulai lagi perdebatan alot dengan pedagang-pedagang. Bau besi tua bercampur keringat dari 8 ketiak, sungguh Pasar itu bukan tempat untuk berlama-lama berdiri.
Lalu tiba-tiba di tengah kerumunan, kericuhan itu terjadi. Costa si Jangkung dan Marty si Berbulu. Dua monster muda yang meledak-ledak. Dengan girang mereka berteriak seperti monster gila. "Kita menang! Kita menang!" jerit Marty melompati peti zamrud dan krisolit dengan lihai. Tidak satu pun permata-permata itu jatuh berserak. "Gigantis sudah kalah. Musuh sudah musnah Kita tidak perlu jadi babu!".Jogetnya senang. Telinganya naik turun dan tanduk rusanya berkilat-kilat gagah. "Benarkah demikian?" Sahut seorang monster tua di ujung jalan sana. "Iya! Aku lihat kejadiannya. Hore! Rantai-rantai sudah lepas. Kawat duri itu sudah diangkat dan sebentar lagi, cihuy, jalan menuju Metropolis akan terang benderang!" Costa menimpali.
Bangsa Monster senang sekali berdansa dan menari. Mereka ahli olah jasmani. Gerakannya kadang liar seperti serigala tapi tak jarang gemulai dengan satu irama seperti angsa. Dan jika satu monster menari, biasanya akan diikuti dengan beratus-ratus pasang monster lainnya. Hal itu lazim dilakukan di pesta-pesta minum atau pernikahan Undercity, tapi kali ini, di tengah pasar? Alamak! Lalu segera saja ratusan monster itu berjingkrak, melompat, menepuk, bergoyang, meliuk dan menari dalam satu irama. Satu baris demi satu baris, monster yang baru datang bergabung. Mereka meletakkan pikulan dan koper-koper di dasar Shelter dan tanpa basa-basi menggabungkan diri dengan alunan 'hey' dan 'hoy' para monster. Setelah bergabung dua lagu, baru sang pendatang berbincang. Ada apa gerangan sampai kita menari begini? Revo menepuk jidatnya. "Kaum rendah tak berintelek."
Namun segera saja umpatannya tak sempat berlanjut. Tangan-tangan ramping menariknya ke tengah lingkaran. "Maaf! Excuse me! Hahaha" Revo tertawa canggung tapi sopan, "Maaf, tapi anda salah orang. Aku tak bisa menari!". Dia meronta melepaskan diri dari cengkraman hangat tentakel-tentakel itu. "Tak perlu sungkan, Sobat! Ini waktunya berdansa!" Ujar si tuan Tentakel. "Sungguh, aku tidak bisa, maaf.. " Lalu Revo tidak ingat sisanya. Langit gelap, lampu-lampu tiba-tiba meredup dan sepertinya ada kilasan-kilasan cahaya dan sonar yang mendengung memekak telinga. Para cyborg bersayap dan berpistol perak. Darah dan minyak berserakan lalu gelap seperti ada ingatan yang hilang atau terhapus karena terlalu malu untuk dikenang. Kenangan kebenaran yang sepotong itu lebih berbahaya daripada ketidakmengertian total.
Sejak itu yang langit-langit Undercity tahu hanyalah dua fakta: Para monster itu biadab tak berakal dan Kaum robot itu angkuh tak berhati. Kemenangan terhadap gigantis, kawat-kawat yang terangkat dan terowongan terang benderang seolah jadi topik kusam dibanding permusuhan rakyat Robot dan Monster. Inilah riwayat Undercity, reruntuhan terowongan bawah tanah Metropolis, kota Sempurna.
November 07, 2011
Kartu Semoga Lekas Sembuh
"Salah! Bukan kayak gitu, tauk!" Si Upik menggertak Buyung yang mengernyit memandangi lukisan krayonnya. Batang-batang lilin berwarna itu berserakan di lantai. Beberapa sudah menggoreskan warna-warna cerah di kertas Buyung. Merah, hijau, biru sesekali diselingi cokelat muda dan ungu. "Kalau matahari itu warnanya jingga. Bukan merah!" lanjut Upik galak.
"Tapi kan, Kak. Kalau lagi sore-sore, mataharinya warna merah". Si Buyung memberanikan diri menjawab kakaknya. Krayonnya dipegang erat-erat seakan kakaknya bisa melahap kertas gambar beserta seluruh batang pewarna yang tersisa itu. "Gini deh, kan gambar aku pernah dimuat di majalah Sempurna. Kamu diam saja. Aku jauh lebih ngerti daripada kamu." Upik merenggut krayon warna jingga dari bawah kotaknya dengan penuh gaya. Lalu menorehkan arsiran-arsiran oranye yang terpercah dari balik sudut sosok setengah lingkaran tersembunyi malu-malu.
Upik dan Buyung sedang sibuk membuat kartu lekas sembuh untuk Sinyo, Kakak sepupu mereka, lulusan Desain Komunikasi Visual di universitas tersohor di Negeri Sempurna. Upik yang lebih tua 2 tahun dari Buyung berkali-kali memprotes seluruh garis, sudut dan titik dalam lembaran karton putih itu. Menurut Upik, Buyung tidak tahu apa-apa. Kalau menggambar gunung itu musti Gunung biru yang menjulang tegak seperti logo aksara sebuah restoran cepat saji, lalu ada jalanan lurus yang membagi kertas itu simetrikal, persawahan hijau yang padinya cuma daunnya beberapa lembar mencuat dari tanah dan burung-burung angka 3 telentang. Yaah... tipikal lukisan anak-anak yang, entah bagaimana, selalu saja serupa sepanjang zaman segala abad, dan seluruh penjuru lah. Masakan meski sudah diajari berkali-kali kalau menggaris gunung, masih saja mencong-mencong. Pohon itu musti pohon kelapa yang daunnya lancip-lancip. Burung itu musti elang, tiga terlentang. Dalam doktrin Upik, selain elemen-elemen dan warna-warna baku itu, haram hukumnya!
"Semoga... lekas.. sembuh.." Eja Upik setelah akhirnya berulang kali kehabisan kesabaran dan memutuskan untuk mengerjakan seluruh sisa halaman di kover depan kartu tersebut. Padahal, perjanjiannya Buyung akan mengerjakan ilustrasinya dan Upik akan menulis ucapannya, karena tulisannya jauh lebih rapi daripada 'tulisan dokter' Buyung.
Sinyo tertawa seraya sesekali membaca berulang-ulang kartu penuh warna dan doa yang kini di tangannya sewaktu mendengar Nonik menceritakan sejarah di balik kartu tersebut. Dengan suplemen harapan dari sepupu-sepupunya, suntikan semangat tawa dari sahabat sewaktu mengisahkan ulang perdebatan itu, tiba-tiba rasanya ia merasa sangat sehat. Sinyo berpikir ia akan mengunjungi sepupu-sepupu tersayangnya dan mentraktir es krim lapis coklat tebal cebanan itu.
----
Bukan karena kartunya atau karena garis-garis gunung yang super lurus atau sawah ekstra hijau atau mentari jingga itu. Apalah arti satu lapangan sepakbola coretan anak kecil jika dibandingkan mahakarya ala Pablo Picasso ukuran postcard? Atau seberapa sempurnakah kamu mengharapkan tulisan tanganmu dibanding kerning nan ideal dari Helvetica, Georgia dan kawan-kawan lainnya? Namun karena ada sinergi yang penuh kasih dari tangan-tangan yang bersama ingin mempersembahkan cinta yang terbaik, kasih yang menyembuhkan dan walaupun dalam keterbatasan satu sama lain, rasa sayang yang saling memandu. Saya rasa hal-hal demikian yang jauh lebih utama dan pastinya membuat sebagian keruwetan hidup berkurang atau setidaknya semoga lebih lekas sembuh.
"Tapi kan, Kak. Kalau lagi sore-sore, mataharinya warna merah". Si Buyung memberanikan diri menjawab kakaknya. Krayonnya dipegang erat-erat seakan kakaknya bisa melahap kertas gambar beserta seluruh batang pewarna yang tersisa itu. "Gini deh, kan gambar aku pernah dimuat di majalah Sempurna. Kamu diam saja. Aku jauh lebih ngerti daripada kamu." Upik merenggut krayon warna jingga dari bawah kotaknya dengan penuh gaya. Lalu menorehkan arsiran-arsiran oranye yang terpercah dari balik sudut sosok setengah lingkaran tersembunyi malu-malu.
Upik dan Buyung sedang sibuk membuat kartu lekas sembuh untuk Sinyo, Kakak sepupu mereka, lulusan Desain Komunikasi Visual di universitas tersohor di Negeri Sempurna. Upik yang lebih tua 2 tahun dari Buyung berkali-kali memprotes seluruh garis, sudut dan titik dalam lembaran karton putih itu. Menurut Upik, Buyung tidak tahu apa-apa. Kalau menggambar gunung itu musti Gunung biru yang menjulang tegak seperti logo aksara sebuah restoran cepat saji, lalu ada jalanan lurus yang membagi kertas itu simetrikal, persawahan hijau yang padinya cuma daunnya beberapa lembar mencuat dari tanah dan burung-burung angka 3 telentang. Yaah... tipikal lukisan anak-anak yang, entah bagaimana, selalu saja serupa sepanjang zaman segala abad, dan seluruh penjuru lah. Masakan meski sudah diajari berkali-kali kalau menggaris gunung, masih saja mencong-mencong. Pohon itu musti pohon kelapa yang daunnya lancip-lancip. Burung itu musti elang, tiga terlentang. Dalam doktrin Upik, selain elemen-elemen dan warna-warna baku itu, haram hukumnya!
"Semoga... lekas.. sembuh.." Eja Upik setelah akhirnya berulang kali kehabisan kesabaran dan memutuskan untuk mengerjakan seluruh sisa halaman di kover depan kartu tersebut. Padahal, perjanjiannya Buyung akan mengerjakan ilustrasinya dan Upik akan menulis ucapannya, karena tulisannya jauh lebih rapi daripada 'tulisan dokter' Buyung.
Sinyo tertawa seraya sesekali membaca berulang-ulang kartu penuh warna dan doa yang kini di tangannya sewaktu mendengar Nonik menceritakan sejarah di balik kartu tersebut. Dengan suplemen harapan dari sepupu-sepupunya, suntikan semangat tawa dari sahabat sewaktu mengisahkan ulang perdebatan itu, tiba-tiba rasanya ia merasa sangat sehat. Sinyo berpikir ia akan mengunjungi sepupu-sepupu tersayangnya dan mentraktir es krim lapis coklat tebal cebanan itu.
----
Bukan karena kartunya atau karena garis-garis gunung yang super lurus atau sawah ekstra hijau atau mentari jingga itu. Apalah arti satu lapangan sepakbola coretan anak kecil jika dibandingkan mahakarya ala Pablo Picasso ukuran postcard? Atau seberapa sempurnakah kamu mengharapkan tulisan tanganmu dibanding kerning nan ideal dari Helvetica, Georgia dan kawan-kawan lainnya? Namun karena ada sinergi yang penuh kasih dari tangan-tangan yang bersama ingin mempersembahkan cinta yang terbaik, kasih yang menyembuhkan dan walaupun dalam keterbatasan satu sama lain, rasa sayang yang saling memandu. Saya rasa hal-hal demikian yang jauh lebih utama dan pastinya membuat sebagian keruwetan hidup berkurang atau setidaknya semoga lebih lekas sembuh.
Oktober 28, 2011
Surprise
October 27, 2011
For all the abundantly neverending parade of His grace, kindness and joy from faithful friends and every single breathe given, no other words can describe as well as: "Thank You".
Oktober 24, 2011
Review Buku: Trilogi Sang Biduan

"Pada mulanya ada Kidung Cinta
Sendiri dalam kekosongan dan ruang hampa.
Kidung itu mengalun sendiri lewat kubah di atasnya.
Menggapai lembut menyentuh wajah Bapa
...
Dan kini reduksi besar itu sudah dimulai:
Pencipta Bumi dan Biduannya satu adanya.
Dan inilah melodi baru itu -
Satu-satunya kidung yang dapat membebaskan Terra
...
Akulah dia. Mereka harus memercayai Kidung itu
atau mereka akan mati"
- Sang Biduan - Calvin Miller.
Selain Kitab Kejadian, ada banyak kisah yang mencoba menuturkan ulang Penciptaan Dunia menurut bangsa-bangsa di seluruh dunia. Mitologi Dayak bilang ada dua ekor Enggang bertarung dan percikannya menjadi dunia atas dan dunia bawah, kemudian dunia tengah pun dihuni manusia. Suku Toraja punya kisah mengenai para dewa yang bersemayam di pegunungan lalu turun ke muka bumi dan berdiam menjadi manusia. Semesta di punggung kura-kura di kisah Bali, lalu ada Ragnarok, perang para Dewa Skandinavia. Namun menurut saya, alegori penuturan kisah Penciptaan di Narnia versi C.S Lewis di buku "Keponakan Penyihir" adalah Penciptaan yang paling romantis. Hehehe. Aslan, sang Singa Agung, bersenandung lalu bumi mengeluarkan seluruh makhluk hidup dan seisi Narnia bernyanyi besertanya. Sang Pencipta yang bersenandung. Sebuah penggambaran yang menurut saya secara pribadi mungkin benar-benar dilakukanNya saat mengukir gunung-gunung dan melukis semesta yang maha indah ini. Ahh...sayangnya di buku-buku Narnia berikutnya, Aslan jarang dilukiskan menyanyi lagi. Lalu saya dipinjamkan buku "Trilogi Sang Biduan" ini oleh seorang rekan kerja di RBC Ministry. Tuhan dilukiskan bernyanyi, namun tidak hanya pada saat Penciptaan, namun sepanjang buku setebal 439 halaman ini. Wow!
"Trilogi Sang Biduan" adalah Novel penuturan ulang kisah Perjanjian Baru dengan gaya alegoris yang luar biasa puitis. Sangking puitisnya, kalau kamu suatu saat membaca buku ini tanpa terlebih dahulu mengenal atau membaca kisah Injil, perjuangan gereja mula-mula sampai apokaliptik Wahyu, mungkin akan garuk-garuk kepala kebingungan dengan alur dan penokohan di dalamnya. Calvin Miller menuliskan cerita mengenai Sang Biduan, Putera Bapa-Roh yang menyanyikan Kidung Bintang Purbakala sebagai alegori Tuhan Yesus. Sang Biduan memulai misinya melantunkan Kidung ajaib dan memulihkan banyak hal di Terra. Namun Sang Pembenci bersuling perak yang kelak menamai dirinya Sarkon, Iblis yang rupawan dan cendikia, tidak menyukai rencana Pencipta Bumi. Lewat para Musisi Kuil Agung, Sang Pembenci menghasut agar Sang Biduan dihancurkan dengan Mesin. Namun kematiannya hanya sementara, Sang Biduan telah bangkit dan menguatkan Si Gila yang di kemudian hari berganti nama menjadi Anthem yang menyanyikan Kidung untuk seluruh Terra. Lalu ada Insan, Sang Penakluk, Praxis sang Ahli Bangunan dan Pangeran Cermin. Di perang akhir, Terra hancur dan digantikan dengan Terra Dua yang bergema dengan penuh nyanyian kemenangan.
Cover bukunya super asyik! Di dalam lembaran-lembaran isinya pun ada beberapa ilustrasi dan ukir-ukiran. Hampir setiap chapter disisipkan semacam quote yang berpaut di kisah berikutnya. Hurufnya juga besar-besar, jadi rasanya 3 atau 4 hari juga bisa selesai baca. Overall, Buku ini menawarkan sudut pandang mengenai Perjanjian Baru dengan (er... katakanlah lumayan) segar, meskipun dengan bahasa yang berat ala Kahlil Gibran. Personifikasi yang lebih kompleks daripada Perjalanan Sang Musafir-nya John Bunyan dan kisah yang jauh lebih berbelit dari Riwayat Narnia. Di buku ini, Terra benar-benar dipenuhi dengan nyanyian sukacita dan ratapan. Ya! Karena Dia pun bersukacita karena kita dengan nyanyian!
"... HE will joy over thee with singing"
- Zephaniah 3:17
Oktober 13, 2011
Kejutan
Kita semua begitu indah saat terlelap
Berhati emas dengan tatap mata senyap
Tetapi nyatanya cinta pun tidak akan memulihkan keliaran gegap
Dan harapan tidak mampu menyembunyikan yang telah lenyap
Ketenangan bukan candu yang dihisap atas nama segala sesuatu
Kala cinta menjadi terlalu liar untuk kurengkuh
Dan meski tak jelas di ujung sana masih harapan
Kelak mungkin jadi satu hal yang membangunkanmu dengan kejutan
- Surprise, Jars of Clay.
Berhati emas dengan tatap mata senyap
Tetapi nyatanya cinta pun tidak akan memulihkan keliaran gegap
Dan harapan tidak mampu menyembunyikan yang telah lenyap
Ketenangan bukan candu yang dihisap atas nama segala sesuatu
Kala cinta menjadi terlalu liar untuk kurengkuh
Dan meski tak jelas di ujung sana masih harapan
Kelak mungkin jadi satu hal yang membangunkanmu dengan kejutan
- Surprise, Jars of Clay.
Oktober 04, 2011
Sebuah Lubang yang Tak Berdasar
Suatu hari, Manusia duduk termenung dan menjerumuskan diri dalam kemuraman. Seluruh hewan berkerumun di dekatnya dan berkata, "Kami tidak ingin melihatmu bersedih. Mintalah apa pun yang engkau mau, kami akan mengabulkannya". Manusia berucap, "Aku ingin penglihatan yang tajam". Burung Nasar membalas, "Ambillah penglihatan serupa dengan yang kumiliki". Manusia berujar, "Aku ingin kekuatan". Jaguar menimpali, "Engkau akan kuat seperti aku". Lalu Manusia meminta, "Aku ingin mengetahui segala rahasia perut bumi". Ular menjawab, "Aku akan memperlihatkannya kepadamu". Lalu berlalulah segenap hewan itu. Dan setelah sang Manusia memiliki semua pemberian yang dapat diberikan oleh seluruh hewan, ia pergi. Lalu Burung Hantu berkata kepada semua hewan lainnya. "Sekarang, Manusia telah mengetahui terlalu banyak, mereka akan mampu melakukan banyak perkara. Tiba-tiba aku merasa khawatir". Seekor Rusa menjawab, "Manusia telah mendapati apa yang ia mau. Sekarang, segala kesedihan dan kerisauan akan lenyap daripadanya". Namun Burung Hantu menjawab, "Tidak. Aku melihat sebuah lubang di dalam Manusia. Jauh membenam seperti rasa lapar yang tidak akan pernah sanggup ia puaskan. Itulah yang selalu membuat dia gundah dan mendorongnya terus menerus hidup dalam keinginan yang tak kunjung habis. Dia akan terus mengambil dan mengambil, sampai suatu hari Sang Bumi akan berkata lirih, 'Aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dapat diberikan kepadamu'"
- Kisah Sang Pendongeng, Apocalypto.
Manusia diciptakan dengan lubang di hatinya, seperti kepingan Puzzle. Manusia akan mencoba serpihan demi serpihan dari birahi, kenikmatan, relasi, aktivitas, kemapanan -bahkan agama, untuk memenuhi lubang tak berdasar itu. Mencoba mengisi lubang itu ibarat menabur pasir ke blackhole di alam semesta atau melempar daun kering dalam dapur api. Karena lubang tak berujung itu dimaksudkan hanya untuk diisi dengan Entitas yang tak terbatas pula. Keilahian yang Maha Hadir yang supranatural. Dialah Mata Air yang memancar untuk jiwa yang dahaga. Sang Roti Hidup untuk mereka yang lapar. Sang Gembala Agung yang olehNya, takkan kekurangan aku.
04 Oktober 2011, selesai Bab VI -MHB
- Kisah Sang Pendongeng, Apocalypto.
Manusia diciptakan dengan lubang di hatinya, seperti kepingan Puzzle. Manusia akan mencoba serpihan demi serpihan dari birahi, kenikmatan, relasi, aktivitas, kemapanan -bahkan agama, untuk memenuhi lubang tak berdasar itu. Mencoba mengisi lubang itu ibarat menabur pasir ke blackhole di alam semesta atau melempar daun kering dalam dapur api. Karena lubang tak berujung itu dimaksudkan hanya untuk diisi dengan Entitas yang tak terbatas pula. Keilahian yang Maha Hadir yang supranatural. Dialah Mata Air yang memancar untuk jiwa yang dahaga. Sang Roti Hidup untuk mereka yang lapar. Sang Gembala Agung yang olehNya, takkan kekurangan aku.
04 Oktober 2011, selesai Bab VI -MHB
September 28, 2011
Penulis Kehidupan
Stranger Than Fiction (2006) mungkin adalah film dengan ide cerita yang paling malesin namun menggugah untuk ditonton. Film ini menawarkan cerita, bagaimana jika kisahmu (baca: hidupmu) ditulis oleh bukan Allah, melainkan manusia. Premisnya adalah, bagaimana jika kamu sebenarnya hanyalah sebuah karakter fiksi dari seorang novelis. Setiap gerakan dan pikiranmu merupakan sumber yang kini berbentuk tulisan untuk dinikmati dari sudut pandang orang ketiga, seakan ada narasi yang menyertai dimana pun kamu ada. Demikian yang dialami oleh Harold Crick, sang "hero" dari sebuah Novel dari Karen Eiffel, seorang penulis yang mengalami mandeg. Filmnya benar-benar seru. Apalagi jika kamu adalah seorang yang gemar menulis blog, cerita pendek, atau setidaknya membaca novel. (Tapi tentu saja, bahkan jika kamu tidak termasuk kategori yang disebutkan, saya pikir kamu akan benar-benar tertarik mengenai pemikiran yang diusung oleh cerita ini. Hehehe!)
Awalnya, saya pikir ini hanya film tipikal yang mengandalkan jalan cerita fantasi lalu di tengah jalan jadi absurd, tapi hampir di sepanjang scene, special effect-nya benar-benar mengejutkan saya. Pengolahan tracking yang sederhana namun rapi membentuk data, sederetan angka-angka atau bidang geometrikal yang mengikuti gerakan Harold Crick, padahal film ini dirilis tahun 2006. Tidak benar-benar special sih, namun cukup membuat saya geleng-geleng kepala sambil berguman, "Niat abis!"
Kehidupan, seperti yang kerap kali kita dengar, adalah sebuah kisah. Kita semua diperhadapkan dengan kisah yang berbeda setiap hari, meski dikungkung oleh jadwal dan program harian. Kepingan adegan dari aktivitas kita setiap hari menyusun sebuah episode dalam hidup. Kehidupan kita yang saling terkait dalam interaksi terhadap sesama dari satu waktu dan berkelanjutan sejak manusia pertama hidup membentuk suatu rentetan kisah agung. Namun seperti Novel, suatu saat kelak, kita pasti menghadapi lembar akhir dari kisah kita. Poinnya adalah, jika seluruh hidupmu dicatat, bukan olehmu sendiri, melainkan oleh seorang "Penulis" yang benar-benar omnipresence (maha hadir) dan omnipotent (maha kuasa), seperti apakah kisahmu? Tragedi atau Komedi belaka atau bersama-sama dengan ribuan - maaf, maksud saya, jutaan atau bahkan miliaran kisah lainnya, menjadi sebuah scene dari sebuah Kisah Maha Agung: Kisah Allah terhadap dunia ini sejak awal sampai akhir waktu. Saya harap, seperti yang dikatakan Dr. Jules Hilbert, "Kelak kita semua pasti akan mati, namun kisah kita akan terus berlanjut dalam kenangan orang-orang" - terlebih lagi dalam kekekalan karena berbagian dalam plot maha indah yang dipersiapkanNya jauh sebelum dunia dijadikan.
Awalnya, saya pikir ini hanya film tipikal yang mengandalkan jalan cerita fantasi lalu di tengah jalan jadi absurd, tapi hampir di sepanjang scene, special effect-nya benar-benar mengejutkan saya. Pengolahan tracking yang sederhana namun rapi membentuk data, sederetan angka-angka atau bidang geometrikal yang mengikuti gerakan Harold Crick, padahal film ini dirilis tahun 2006. Tidak benar-benar special sih, namun cukup membuat saya geleng-geleng kepala sambil berguman, "Niat abis!"
Kehidupan, seperti yang kerap kali kita dengar, adalah sebuah kisah. Kita semua diperhadapkan dengan kisah yang berbeda setiap hari, meski dikungkung oleh jadwal dan program harian. Kepingan adegan dari aktivitas kita setiap hari menyusun sebuah episode dalam hidup. Kehidupan kita yang saling terkait dalam interaksi terhadap sesama dari satu waktu dan berkelanjutan sejak manusia pertama hidup membentuk suatu rentetan kisah agung. Namun seperti Novel, suatu saat kelak, kita pasti menghadapi lembar akhir dari kisah kita. Poinnya adalah, jika seluruh hidupmu dicatat, bukan olehmu sendiri, melainkan oleh seorang "Penulis" yang benar-benar omnipresence (maha hadir) dan omnipotent (maha kuasa), seperti apakah kisahmu? Tragedi atau Komedi belaka atau bersama-sama dengan ribuan - maaf, maksud saya, jutaan atau bahkan miliaran kisah lainnya, menjadi sebuah scene dari sebuah Kisah Maha Agung: Kisah Allah terhadap dunia ini sejak awal sampai akhir waktu. Saya harap, seperti yang dikatakan Dr. Jules Hilbert, "Kelak kita semua pasti akan mati, namun kisah kita akan terus berlanjut dalam kenangan orang-orang" - terlebih lagi dalam kekekalan karena berbagian dalam plot maha indah yang dipersiapkanNya jauh sebelum dunia dijadikan.
September 25, 2011
Menjaga Hati
Hati manusia adalah permata hidup yang amat rentan. Dengan segala kewaspadaan jagalah hatimu, karena dari hati memancar kehidupan. Batin ini mudah ternoda dengan segala hal yang bejat, dengki, congkak dan segala kemunafikan. Namun menjaga hati bukan perkara yang mudah sebab hati yang berdetak sarat untuk dilukai, namun sebaliknya hati yang terluka mengindikasikan bahwa hati itu hidup.
Alkisah, hiduplah seorang yang memutuskan untuk menyimpan hatinya ke dalam sebuah peti emas. Ia menutup rapat-rapat dan menguncinya dengan rantai perak agar hatinya tersimpan dengan baik. Ia pikir, dengan demikian, tidak ada yang bisa mengetahui hati itu selain pemiliknya.Hati itu kini aman terhadap segala jenis kejahatan di luar sana. Tidak ada yang mampu menistakan dan tidak ada yang bisa menyakitinya.
Sampai suatu hari, sang pemilik membuka kotak itu dan menemukan bahwa ia sendiri dikelabui oleh hatinya. Seiring berlalunya waktu, hati itu berubah menjadi dingin dan membeku. Hati itu menjadi mati terhadap kehangatan dan hidup. Hatinya menjadi picik dan semua pemikiran kebijaksanaan menjauh darinya. Hari-harinya dipenuhi oleh kelicikan sempit seolah dia yang menaklukkan hati sudah menguasai seluruh semesta. Hatinya sudah membatu. Tidak ada yang mampu menghangatkannya. Tidak dengan kehangatan udara kebebasan atau api gairah. Tinggallah ia menangisi hati batunya.
Satu-satunya jalan agar kelak hati itu mampu berdetak lagi adalah dengan meremukkannya. Menghancurkan hati itu pecah berkeping-keping dan menyerahkan tiap patahannya kepada Sang Pencipta hati. Hati yang hancur tidak pernah ditolakNya, begitu kata garansinya. Demikian pula dengan hati yang busuk, berbau dan bernanah. Segala kejijikan itu luluh dibasuh dengan darah Sang Pembuat sendiri dan dari dalam darah itu setiap kepingan menemukan kembali detaknya. Sebuah kehidupan baru yang berdenyut dari hati yang baru yang hangat dan utuh.
Alkisah, hiduplah seorang yang memutuskan untuk menyimpan hatinya ke dalam sebuah peti emas. Ia menutup rapat-rapat dan menguncinya dengan rantai perak agar hatinya tersimpan dengan baik. Ia pikir, dengan demikian, tidak ada yang bisa mengetahui hati itu selain pemiliknya.Hati itu kini aman terhadap segala jenis kejahatan di luar sana. Tidak ada yang mampu menistakan dan tidak ada yang bisa menyakitinya.
Sampai suatu hari, sang pemilik membuka kotak itu dan menemukan bahwa ia sendiri dikelabui oleh hatinya. Seiring berlalunya waktu, hati itu berubah menjadi dingin dan membeku. Hati itu menjadi mati terhadap kehangatan dan hidup. Hatinya menjadi picik dan semua pemikiran kebijaksanaan menjauh darinya. Hari-harinya dipenuhi oleh kelicikan sempit seolah dia yang menaklukkan hati sudah menguasai seluruh semesta. Hatinya sudah membatu. Tidak ada yang mampu menghangatkannya. Tidak dengan kehangatan udara kebebasan atau api gairah. Tinggallah ia menangisi hati batunya.
Satu-satunya jalan agar kelak hati itu mampu berdetak lagi adalah dengan meremukkannya. Menghancurkan hati itu pecah berkeping-keping dan menyerahkan tiap patahannya kepada Sang Pencipta hati. Hati yang hancur tidak pernah ditolakNya, begitu kata garansinya. Demikian pula dengan hati yang busuk, berbau dan bernanah. Segala kejijikan itu luluh dibasuh dengan darah Sang Pembuat sendiri dan dari dalam darah itu setiap kepingan menemukan kembali detaknya. Sebuah kehidupan baru yang berdenyut dari hati yang baru yang hangat dan utuh.
September 09, 2011
Bilingual
Saya suka menggambar kisah Alkitab, terutama karakter Tuhan Yesus dengan environment dan budaya Indonesia. Tuhan Yesus mengenakan batik atau berinteraksi dengan kekhasan nusantara Indonesia. Menurut saya, segala sesuatu -Ya! segala sesuatu itu termasuk pula di dalamnya batik, ulos, sate, bakso, tifa, sampek, budaya, bahasa dan seluruh semesta- diciptakan olehNya. Sudah sepatutnya semuanya itu dipakai untuk memuliakan Dia. Salah satu cara saya mengekspresikannya adalah dengan melukiskan bahwa Ia berinteraksi dengan ciptaanNya tersebut. Wajar dong, toh Dia lah Sang Kreator tersebut.:)
Ini adalah versi Mandarin dari wallpaper "Diam! Tenanglah!" dan "Melayani Lebih Sungguh" dari situs http://ya-mi.org/, pelayanan berbahasa Mandarin dari RBC.Ministry. Silakan diunduh. Hitung-hitung memperkenalkan Batik Indonesia ke luar sana. Hehe!
Ini adalah versi Mandarin dari wallpaper "Diam! Tenanglah!" dan "Melayani Lebih Sungguh" dari situs http://ya-mi.org/, pelayanan berbahasa Mandarin dari RBC.Ministry. Silakan diunduh. Hitung-hitung memperkenalkan Batik Indonesia ke luar sana. Hehe!
Agustus 31, 2011
Ngaca, dong!
Kalau orang hendak bertemu kekasih hatinya, berjam-jam bisa lalu begitu saja demi ngaca sambil berlatih gaya yang unyu. Serangkaian jurus rayuan maut yang aduhai dilafalkan dalam hati sampai bunyi ketawa pun kalau bisa dibikin supaya tetap terdengar memikat. Yang biasanya bau keringat, sekarang jadi wangi; yang jerawatan, buru-buru seribu satu cara supaya bintilnya ketutupan; yang giginya bekas nyangkut cabai, sibuk sikatan & pakai mouthwash segala. Kekasih yang dimabuk asmara itu mendandani diri, memasang tampang sok memikat dan menyelubungi diri dengan tirai "saya-orang-baik-baik-kamu-nggak-akan-nyesal-pacaran-sama-aku". Lalu keduanya bertemu di tempat yang udah janjian, pake baju couple yang udah janjian, lalu beranjak pergi gandeng-gandengan tangan. Hehehe! Saya suka tertawa sama pasangan yang show off beginian. Yaah... namanya juga manusia. Maklumlah, penglihatan ini cuma bisa memandang apa yang di depan mata. Pengennya memandang yang indah-indah, dong! :)
Saya jadi berpikir, sedemikian ngototnya manusia dalam kisah hidupnya berdandan? Perlukah menutupi diri dengan riasan jika seandainya "Mempelai" kita telah mengenal kita luar-dalam? Masih pentingkah bersolek sedangkan "Kekasih" itu memandang mata kita tembus sampai ke kedalaman hati dan segala rahasianya. Tidak ada yang terselubung di hadapanNya. Dia memang mencintai kita apa adanya tapi di masa menantikan pertemuan dengan Kristus, Sang Kekasih hidup, kelak di kedatanganNya yang kedua di bumi, saya pun harus mendandani diri dengan kekudusan. Bukan supaya Dia tambah naksir, tapi memang karena saya cinta Dia.
Tiba-tiba saya jadi pengen buka bisnis sablon kaos couple. Hehehe!
Agustus 30, 2011
Okay, Campers, Rise and Shine! It's Groundhog Day!
Groundhog Day (1993) adalah komedi satir mengenai rutinitas. Siapa yang pernah jenuh melakukan sesuatu berulang-ulang kali rasanya tidak berhak untuk mengeluh lagi seandainya mereka terperangkap dalam kondisi yang dialami oleh Phil. Seorang pembawa berita cuaca yang angkuh terjebak dalam satu hari yang sama yang berulang terus menerus. Phil dan 2 rekannya meliput Festival Groundhog Day, sebuah perayaan dari kota kecil di Punxsutawney tentang ramalan dari seekor marmot besar mengenai akhir musim dingin. Terjebak dalam kota, Phil (Bill Murray) sang penggerutu tidak berhenti mengeluh mengenai segala sesuatu dan, entah bagaimana, mendapati hanya dirinya yang mengalami pengulangan hari itu sementara semua orang tidak. Bayangkan betapa bosannya jika kamu harus sendirian bangun dan menjalani kejadian yang persis sama dengan kemarin dan tidak ada hari esok . Diperparah lagi, tidak ada satu pun cara yang berhasil meloloskan diri dari pengulangan tersebut.
Ada banyak hal menarik yang dapat dilakukan untuk mengisi setiap waktu dalam hidup. Mengakali rutinitas hanyalah semata masalah fokus. Akankah menjalani hari untuk kepuasan pribadi yang (kebanyakan) berakhir sia-sia atau hidup dengan maksimal untuk orang lain. Kalau kamu mulai merasa apa yang kamu lakukan membosankan dan mulai mengasihani diri atas "waktu-yang-terbuang-percuma-karena-terlalu-banyak-luang-entah-mau-dibikin-apa", film ini mungkin bisa menginspirasimu untuk live to the fullest.
PS: By the way, you can download the 'morning radio program' that wakes Phil in to the Groundhog day everyday here.
Yes is the New No
Yes Man (2008) mengisahkan tentang Carl, pria yang selalu menolak segala jenis tawaran dan menghabiskan waktu menyendiri. Sampai suatu saat hidupnya berubah sejak ia memutuskan untuk membuka diri dan menjawab "Ya" pada segala sesuatu - bahkan pada sesuatu yang tidak ingin ia lakukan. Dibintangi oleh Jim Carrey dan si unyu Zooey Deschanel, film ini menawarkan sebuah kehidupan yang merangkul setiap kesempatan, menjalani dengan antusias dan optimisme terhadap hasil akhir tanpa perlu memikirkan konsekuensinya. Carl yang semula hanya seorang jomblo menyebalkan bermetamorfosa menjadi seorang supel yang mengambil segala resiko dan (untungnya) berhasil menarik hati semua orang.Memang sih, siapa yang melewatkan kesempatan, mereka sebenarnya menyia-nyiakan pula segala resiko dan kepuasan dibaliknya, tapi tidak semua pilihan berujung baik meskipun dilontarkan dengan sebuah kata "YA".
Film yang bagus buat kamu yang sedang pesimis dan mulai hilang gairah melakukan - atau bahkan- menikmati hidup. Well, Kita semua cuma hidup sekali dan kita akan mempertanggungjawabkan segala konsekuensi yang kita lakukan dengan hidup itu. Yang baik maupun yang sembrono.
Agustus 24, 2011
Heri Kurniawan - Portfolio 2011
Ini adalah portfolio yang berisikan karya selama ini yang terdiri atas tugas kuliah, pekerjaan sampingan dan proyek pribadi. Anda dapat menuju tautan yang diberikan untuk menyaksikan videonya dan jika anda berminat, senang sekali jika anda bersedia menghubungi saya lewat email.
This is my portfolio contained of my works done so far from college assignment, side jobs and personal projects. You can click the link given to go to the video and if you are interested, it's a pleasure if you contact me by mail.
Agustus 18, 2011
Heri Kurniawan - Showreel 2011
Heri Kurniawan - Showreel 2011 from Heri Kurniawan on Vimeo.
Hai! Saya Heri Kurniawan. Saya sedang menyelesaikan studi di Jurusan Animasi - Desain Komunikasi Visual Binus University, Jakarta, Indonesia. Saya seorang freelancer untuk ilustrator, animator dan motiongrapher dengan visual etnik kontemporer Indonesia.
Kontak saya di sini
Curriculum vitae klik di sini
Hi, there! I'm Heri Kurniawan from Animation Department of Visual Design Communication at Binus University, Jakarta-Indonesia. An Indonesian contemporary ethnic visual based illustrator, motiongrapher and animator.
Contact me here.
Curriculum vitae click here
Juli 02, 2011
Purnabakti
Musik sudah berhenti mengalun. Puji-pujian dan doa penutup telah dinaikkan. Buku evaluasi selesai dicatat. Kolekte telah selesai dihitung. Pelayanan periode ini pun telah usai. Jika mengenang minggu-minggu awal masa pelayanan di PO Sabtu periode ini, waktu serasa melesat dengan cepat. (Saya menulis POdium POSITIF terakhir PO Sabtu tahun lalu disini). Memang ada kalanya kejenuhan menyapa dan rasa letih akan mengurusi perkara yang saling tumpang tindih. Belum lagi tanggung jawab kuliah dan printilan lain yang saling dekat. Namun jika seandainya waktu bisa diulang kembali, tak rela rasanya jika mengulang semua kejadian pahit dan manis itu. Terlalu berharga dan terlalu ajaib untuk dihapus begitu saja.
Saya menyadari bahwa setiap pelayanan demi pelayanan yang dilewati hanyalah anugerahNya semata. Beneran! Kalau mau hitung-hitungan, Tuhan bisa pakai siapa saja. Terlepas dari how skillfull and how talented are you, tetap kita semua hanyalah alat semata di tanganNya. Tuhan tidak butuh pelayanan kita seolah Dia kurang maha kuasa. Kita lah yang dapat hak istimewa untuk melayani Sang Pembuat gunung dan Pengukir awan-awan itu.
Seseorang pernah bilang, adalah sebuah kekonyolan jika mendasarkan iman kita hanya pada perbuatan-perbuatan baik dan pelayanan yang kita lakukan. Kebaikan yang kita lakukan itu cacat dan pelayanan kita sering tidak sempurna. Namun, tak dapat dipungkiri salah satu indikator iman yang sehat dan bertumbuh adalah iman yang memancarkan kasih, aksi, karya pelayanan, kuasa dan kekuatan yang bersumber dari Allah dalam diri orang-orang percaya.
Sementara hal-hal demikian kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan bersama dengan waktu, talenta dan 'domba-domba' yang Ia percayakan, pelayanan memiliki sisi unik lainnya. Kita bertanggungjawab pula terhadap organisasi yang mewadahi. Evaluasi kinerja, anggaran, program kegiatan dan seabrek strategi lainnya. Kedengarannya teknis memang, tapi justru dengan demikian karakter, pengalaman dan tanggung jawab kita diasah. Dengan evaluasi, pelayanan berikutnya akan belajar dari periode sebelumnya. Mengembangkan yang baik dan memperbaiki yang gagal secara bertanggung jawab. Jika tidak dapat dipercaya di hadapan manusia, bagaimana bisa dipercayakan tanggung jawab yang lebih besar dari Allah yang tidak kelihatan?
Faktor tekanan dan ekspektasi berlebihan dari manusia memang cukup membuat depresi pelayanan. Masukkan juga variabel eksternal dari situasi, kondisi luar yang seringnya tidak memihak sesuai rencana, jadilah beberapa pelayan melepas tugas mereka dengan euforia sukacita pasca pelayanan. Ekstrem lainnya adalah melepas pelayanan dengan penyesalan luar biasa karena tak sanggup mengerjakan tanggung jawab dengan maksimal dan meninggalkan sisa-sisa mimpi dan hutang pelayanan ke generasi berikutnya. Tapi bukankah dalam melayani Tuhan tidak ada kata pensiun? Belum saatnya purnabakti. Tidak akan pernah usai sampai kelak kita dipanggil dari dunia ini. Sebab ladang yang menguning (atau sudah hampir busuk) masih luas, sedangkan pekerja sedikit. Masih banyak pekerjaan yang dapat dilakukan selama masih siang. Jenjang studi, pekerjaan, pasangan hidup, kekuatan, usia lanjut dan segala hal lain hanyalah sebatas penanda untuk 'pindah tugas'. Seperti nasib segala sesuatu di bawah kolong langit ini, pelayanan kita selain tak sempurna, dibatasi pula oleh waktu.
Akhirnya, jejak apa pun yang kamu tinggalkan dalam satu periode pelayananmu, entah kesan dan teladan manis atau mungkin cela dan keterbatasan, biarlah Tuhan yang menilai. Sebab hanya Dia yang menyelidiki hati dan mengetahui motivasi pelayanan. Terima kasih dan syukur untuk pelayanan teman-teman pengurus maupun keluarga besar PO Sabtu ACT. Selamat melanjutkan atau selamat di'pindahtugas'kan dalam pelayanan berikutnya. Tidak ada kata pensiun dalam berbakti dan melayani Tuhan hingga kelak Dia yang memanggil dan bertemu muka dengan kita, mendapati kita adalah hamba-hamba yang baik dan setia. :)
Jakarta, 02 Juli 2011.
Juni 27, 2011
Juni 24, 2011
Trek tek tek tek tek! Kachoow!

Dua hari yang lalu adalah ulang tahun Jakarta ke-484. Senang sekali bisa berkuliah dan menghabiskan waktu di kota bersejarah ini. Walaupun banyak hal yang bisa saja dibuat topik untuk mengeluh. Mulai dari sarana transportasi, sistem pengolahan air, tata letak kota, listrik, keamanan dan berbagai masalah lainnya yang tidak habis dikritik. Saya tidak fanatik buta terhadap kebobrokan di kota ini, tapi mari melihat petualangan yang tiap hari kita temukan disini. Dimana lagi bisa ketemu antrian sak karep'e dewe, manusia dan sampah jadi satu, angkot yang secara ajaib berani bertengger seenaknya menaikkan dan menurunkan penumpang. Termasuk si oranye Bajaj, angkutan umum khas Jakarta yang ramai dan meriah ini.
Bajaj itu kalau menurut saya lambang optimisme, kerja keras dan pantang menyerah. Kalau kata lelucon, hanya Tuhan saja yang tahu kapan si Abang bajaj mau belok, sangking 'tidak tahu aturan'-nya seliweran sang Bajaj. Hehehe! Si Abang dengan sesuka hatinya mengendalikan kendaraan bermotor roda tiga ini. Bajaj juga pantang mundur, gimana yaah soalnya toh emang dia didesain nggak bisa mundur. Kecuali kalau dia sedang memuat Ibu-ibu penuh dengan barang belanjaan, yang memang takdir nggak kuat naik di Jembatan Kemanggisan. Hehehehe!
Anyway, Bajaj ini adalah tugas kuliah Modelling 2: Hardsurface. Saya menambahkan beberapa elemen seperti mata dan senyuman sesuai karakter Cars untuk disubmit Countdown Cars 2 di Blog Pixartimes. Tidak lupa sebuah bendera Merah Putih imut di jok belakangnya. Yaah, tema Cars 2 kan mengenai Balap seluruh dunia. Hitung-hitung berharap memeriahkan suasana lah. Ayo, singgah sebentar dan kasih jempol di halaman ini habis itu, mari memanjatkan sebaris doa, semoga kepelikan regulasi perpajakan itu segera dituntaskan supaya kita bisa nonton lagi film-film Hollywood yang bermutu. Setuju?
Trek tek tek tek tek! Kachoow!
Thank you, Pixartimes! Please welcome "Bajaj", a tricycle for Public Transportation in Jakarta, Indonesia. Hope someday, you guys pleased to visit Indonesia and experience all the stuff here. Haha! :) Well, unfortunately, due to the regulation of tax and whatsoever, here in Indonesia, we won't watch all the Hollywood Movie, including Cars2. Let's pray for some sooner solution for the government, so we can watch and have a "kachoow" holiday with Mc Queen and the gank! :)
Juni 13, 2011
Pujilah Tuhan Hai Jiwaku


Kalau ada survey mengenai Kitab yang paling disukai, mungkin salah satu jawaban teratasnya adalah Mazmur. Kitab yang penuh dengan nyanyian, puisi, syair dan ungkapan perasaan manusia kepada Allah. Uniknya, kumpulan curhat, doa dan seruan dari manusia ini pun diakui dan adalah Firman Allah. Salah satu buktinya, di atas kayu salib, Tuhan Yesus berseru kepada Bapa menggunakan Mazmur 22, "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?".
Allah mengaruniakan Mazmur dan puji-pujian kepada manusia sebagai sarana mengungkapkan kekaguman, hormat, syukur, dan sukacita kepadaNya. Bahkan Mazmur membantu kita mengekspresikan perasaan-perasaan yang lain semacam kesedihan, kemarahan dan rasa keterbatasan kita untuk mengerti Allah. Sekalipun Dia mengenal isi hati kita, Dia tetap rindu bercakap-cakap dan mendengar kita apa adanya. Perasaan, seperti juga halnya jiwa, roh, akal budi, kekuatan, talenta dan anugerah lainnya, diciptakan oleh Allah dalam diri manusia. Namun jangan pula terjebak ekstrim bertindak berdasarkan perasaan melulu, atau sebaliknya tidak pakai perasaan seperti robot. Kuasailah perasaan tersebut berdasarkan kebenaran Firman Allah sehingga seluruhnya pun dipakai memuliakan Allah.
Syukur pada Allah, Indonesia adalah negeri yang kaya akan keberagaman suku bangsa dan budaya. Sampek dan Tifa adalah sebagian kecil dari alat musik tradisional Indonesia. Sampek adalah alat musik petik menyerupai kecapi yang kerap dipakai mengiringi nyanyian para pemuda-pemudi dayak Kalimantan, sedangkan Tifa merupakan sejenis gendang yang ditabuh dalam berbagai tarian berirama rancak di Kepulauan Maluku dan Papua. Semuanya pun dapat dipakai untuk memuji Tuhan
Biarlah segala suku bangsa, kaum dan bahasa memuliakan Allah. Biarlah namaNya ditinggikan lewat ciptaanNya. Nyanyikanlah pujian dan mainkan musik dengan segenap perasaan, hati, jiwa, roh, akal budi dan hidup kita berdasarkan kebenaran Firman Allah. Sebab hanya Tuhan yang layak menerima segala penyembahan, kemuliaan dan hormat kita.
Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya! - Mazmur 150:6
PS: Terima kasih untuk Frits buat terjemahan bahasa Biak dari Papua-nya. Ternyata seru juga mencari Alkitab dalam terjemahan bahasa daerah. :)
Juni 06, 2011
Suatu Hari di Pinggir Jalan Yerusalem ke Yerikho
Jadi begini, dua minggu yang lalu saya digempur berulang kali dengan kisah yang berakhir twist ini. Orang Samaria yang murah hati adalah salah satu perumpamaan yang paling saya sukai selain perumpamaan anak yang hilang. Mulanya, di Training Pubdok sesi Penulisan Artikel, kami sama-sama membacakan puisi yang diparafrasekan dari kisah ini. Cerita yang sama saya bahas dalam kelompok kecil mengenai observasi latar belakang karena pada saat itu saya dan anak-anak Kelompok Kecilku tercinta sedang memasuki bagian Pendalaman Alkitab jenis Perumpamaan. Esoknya, cukup terkejut pula karena di bahan saat teduh saya, Our Daily Journey, membahas poin yang serupa. Ah, hanya kebetulan. Pikirku sambil lalu. Tak disangka-sangka, coba tebak! Pada hari Minggu, khotbah di gereja saya membahas topik yang serupa! Hmmm... Tuhan sebenarnya mau ngomong apa sih?
Perumpamaan ini diceritakan Tuhan Yesus untuk menjawab pertanyaan seorang ahli taurat yang mencoba menjebak Tuhan dengan pertanyaan, "Siapakah sesamaku manusia?". Ahli Taurat ini tidak bodoh. Dia hanya ingin membenarkan perspektifnya bahwa 'sesama manusia' hanyalah berarti orang sebangsa atau dalam kasta, golongan dan batas-batas tertentu, serupa dengan dia sendiri. Tidak dapat disangkal, kadang-kadang kita sudah begitu sering mendengar perumpamaan demikian sampai kesan yang timbul adalah brand bahwa semua orang Samaria itu polos dan murah hati. Namun, dengan mengetahui latar belakang budaya dan adat yang berlaku pada zaman itu, cukup menimbulkan shock bagi pendengarnya.
Dikisahkan, pada suatu hari di pinggir jalan Yerusalem ke Yerikho, seorang Yahudi terkapar setengah mati sehabis dirampok dan dianiaya. Seorang Imam, pemuka agama Yahudi datang lewat di jalan itu dan buru-buru meneruskan perjalanan tanpa menolong sedikitpun pada sang korban. Imam dan Ahli Taurat adalah dua golongan yang saling bertolak belakang. Musuhan. Jadi, mungkin saja dalam pikiran sang Ahli Taurat, ia menertawakan tingkah laku sang Imam. Apa sih yang bisa diharapkan dari golongan semacam ini yang tak mau mencemari tangan mereka dengan urusan yang bukan perkaranya.
Kisah berlanjut. Orang berikutnya yang lewat adalah seorang Lewi. Hal yang sama pula. Sang Lewi ini pun tidak tergerak hati untuk membantu korban sekarat itu. Terlalu sibuk dengan urusannya. (Entah benar-benar sibuk, atau sok kelihatan sibuk?)
Dan dari kejauhan tampaklah satu sosok lagi yang datang mendekat. Ahh, kali ini pasti golonganku, pikir si Ahli Taurat. Tapi tidak demikian kisahnya. Sebaliknya, orang Samaria yang akhirnya berhenti karena belas kasihan kepada orang Yahudi yang terkapar itu. Merawatnya, membawanya ke penginapan yang layak dan bukan cuma itu, ia menitipkan uang yang banyak untuk biaya perawatan dengan janji akan kembali lagi.
Orang-orang Samaria mulanya bagian dari Israel pula. Namun semenjak mereka melakukan kawin campur dengan bangsa-bangsa lain yang dibuang ke daerah mereka, ada semacam perseteruan keji antara Yahudi dan Samaria. Orang-orang ini dianggap hina dan tidak masuk hitungan bagi Yahudi. Seperti banyak perumpamaan, akhir dari metafora ini kerapkali tidak dapat ditebak. Justru reaksi seperti inilah yang diharapkan.
Pada akhirnya, Tuhan Yesus balik bertanya kepada sang Ahli Taurat itu, "Menurutmu, siapakah yang menganggap si korban itu sebagai 'sesama manusia' yang patut dikasihi seperti mengasihi diri sendiri?". Jawaban yang diberikan si Ahli Taurat yang benar-benar keras hati ini sekali lagi mencengangkan. "Orang yang menunjukkan belas kasihan." Demikian tuturnya singkat, tidak sanggup menyebut 'Orang Samaria' sangking bencinya. "Pergilah, perbuatlah demikian." Tutup Yesus. Jangan sekedar tahu, namun lakukan kebaikan itu.
Sudah sebulan ini, DKV Binus melakukan satu proyek bersama secara massal. Dosen-dosen dikerahkan, Mahasiswa bahu membahu, semuanya menyongsong kedatangan David Berman, penulis buku 'Do Good Design' dengan proyek-proyek berbuat kebaikan yang ramah sosial dan ramah lingkungan lewat desain. Lingkupnya di sekitar Syahdan, kampus kami. Motivasinya? Tidak ada motivasi lain selain buat kepuasan pribadi para altruis probono ini dan menjadikan lingkungan ruang kami beraktivitas jadi lebih baik. Titik. Kita berbuat baik karena kita bisa. Kita berbuat baik karena kita harus.
Jadi, dari sekitar 400 mahasiswa DKV angkatanku, dipilih 40 anak yang (dianggap terbaik) menjadi beberapa kelompok proyek. Ada kelompok yang mengangkat Pangkalan Ojek. Mereka me-rebrand kesan semrawut para abang-abang menjadi lebih trendy dan lebih nyaman. Kelompok lain mencoba mengangkat citra Pasar Kembang Rawa Belong. Proyek lain mengenai topik menghargai pengamen dan proyek pemetaan area jalan Syahdan untuk memudahkan mahasiswa baru. Kelompok saya melihat issue bahwa menjadi mahasiswa di Jakarta, khususnya di Binus, ruang publik sudah nyaris tidak ada dan olahraga menjadi satu barang mewah, hanya buat mereka yang punya waktu dan punya duit. Palingan ngeGym atau dengan intensitas yang luar biasa jarang, jogging ke Senayan atau Futsal di lapangan sewaan. Tidak murah dan sulit dijangkau. Nah, kelompok kami mempublikasikan jalan-jalan pintas di seputar Syahdan yang jarang dilalui kendaraan dan lapangan kecil di ujung gang yang masih bebas polusi dan bebas macet di pagi hari. Sebuah rute untuk lari pagi yang murah meriah. Lagipula, selagi jogging, kamu bisa menyapa bapak ibu warga yang dengan ramahnya, balik menyapa dan tersenyum. Pagi di Jakarta tidak selamanya sumpek dan berbayar. Bisa segar dan gratis pula. :)
Proyek kami selesai pada saat workshop David Berman di akhir Mei 2011. Tapi semangatnya tidak luntur. Beberapa mahasiswa masih terbakar untuk melakukan hal-hal baik buat sekitar tanpa dikomando. Walaupun saya juga tidak menyangkal, lewat proyek ini, terlihatlah mahasiswa (yang katanya terbaik itu) namun tak punya hati sosial sedikitpun. Dengan berbagai alibi, ongkang-ongkang kaki tak mau peduli. Ah, semoga saya tidak jatuh pada sikap menghakimi mereka. Mungkin memang mereka sedang sibuk sampai tidak sempat melakukan aksi sosial yang menyenangkan ini, punya urusan yang lebih mendesak semacam urusan keluarga (mungkin), atau memang buat mereka nilai tugas kuliah saya tidak boleh dicemari dengan waktu yang diinvestasikan untuk proyek gratisan ini?
Di masa-masa regenerasi ini, Saya berpikir lagi mengenai pelayanan nirlaba. Repot-repot di persekutuan kampus mengurusi anak orang lain yang tak jelas asal-usulnya. Berkorban waktu, tenaga, uang bahkan emosi cuma buat satu kata yang berjuta makna: pelayanan. Kalau yang lain liburan bisa santai-santai, kami disibukkan dengan rapat sampai jauh malam. Sementara yang lainnya menghamburkan uang, kami mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk beli alat musik. Dan masih banyak lagi. Tidak usah dirinci satu per satu lah.
Pertanyaannya adalah: Buat apa? Buat siapa? Apa motivasinya? Apa esensinya? Kalau mau jujur, tidak terlalu banyak 'buah' yang dihasilkan atau terobosan besar-besaran yang dicapai selama ini. Bertumbuh sedikit sih mungkin ada, namun tidak terlalu signifikan. "Ada gunanya nggak, sih?!" Sejenak saya merenungkan dan bertanya setengah pada diri sendiri saat pikiran penat dan beban semakin menumpuk. "Gila kau, Her!" Tegur sahabatku keras. "Pelayanan buat Tuhan lah!" Ujarnya lagi. Mungkin belum terlihat hasilnya atau mungkin tidak ada hasil sama sekali, tapi kau nggak boleh menyerah. Kita tidak boleh menyerah. Hasil itu urusan Tuhan saja, yang penting kita kerjakan apa yang dipercayakan ke kita. Bukankah manusia tidak mungkin mampu mengubah hati manusia? Tidak cukupkah alasan bahwa Tuhan-lah yang lebih dahulu mengasihi kita, sehingga kita dimampukan mengasihi orang lain seperti diri sendiri?
Malam ini, saya kembali memikirkan ulang dalam-dalam segala kejadian, percakapan dan perumpamaan ini. Perumpamaan yang indah didengar kalau sedang berada di bangku sekolah minggu yang warna-warni, atau dalam gedung sejuk nan nyaman berAC. Tuhan sebenarnya mau ngomong apa sih?
Source image: google.com
Juni 04, 2011
Tidur Sana!
Time to lay head down and do some rest
Release all the burdened heart and live in a life of worryless
I'm not gonna freak out,
neither scream out loud
I just try to erase the memory
Step back and let everything goes free
Hey, the world is not spinning for you alone
And the sun will always arise even when you're gone
This mind is too worth for a crap thought
and this heart refuse all the sadness that you brought
Soon, the two will turn just like Cain and Abel
Or Esau and Jacob on a duel
Perfect pair for perfect pain
Because it's too hurt to explain.
But yet for me
These might be the end of the story
I'll decide my own path
Far enough to heal the wrath
Please fastened your seatbelt
Enjoy the trip with that wicked bat
I'll spread my wing and touch the sky
Even it means i'll dropped off from the high
I never regret, I never beg again
Because it's a perfect plan for a perfect pain
Release all the burdened heart and live in a life of worryless
I'm not gonna freak out,
neither scream out loud
I just try to erase the memory
Step back and let everything goes free
Hey, the world is not spinning for you alone
And the sun will always arise even when you're gone
This mind is too worth for a crap thought
and this heart refuse all the sadness that you brought
Soon, the two will turn just like Cain and Abel
Or Esau and Jacob on a duel
Perfect pair for perfect pain
Because it's too hurt to explain.
But yet for me
These might be the end of the story
I'll decide my own path
Far enough to heal the wrath
Please fastened your seatbelt
Enjoy the trip with that wicked bat
I'll spread my wing and touch the sky
Even it means i'll dropped off from the high
I never regret, I never beg again
Because it's a perfect plan for a perfect pain
Juni 03, 2011
Mengenal dan Dikenal
Okeh. Malam ini, saya baru saja bercakap-cakap dengan salah satu sahabat dekat saya. Kami bicara banyak tentang kerjaan, masa depan, akuarium, sodom dan gomora, tamiya, kuliah, dan sebagainya. Mulai topik yang duniawi, agak rohani sampai yang rohani sekali. Haha! In short, kami berbicara banyak hal.
Sampai pada satu poin tentang mengenal dan dikenal. Saya mengungkapkan kalau saya punya kegelisahan ambisius tentang jika tidak dikenal oleh sekelompok oknum. Rasanya saya akan mengerahkan segenap usaha, agar jangan sampai satu periode lewat tanpa nama saya berhasil diketahui oleh sang berwenang. Karena menurut prinsip saya, dengan pengenalan, komunikasi akan lebih berlangsung secara lancar, perbedaan dapat diminimalkan dan segala pintu seolah terbuka. Cuma yang tak kalah pentingnya, adalah konsistensi setelah impresi tersebut. Bagaimana menjalin hubungan sesudah dikenal dan tetap menjaga 'image' dan mempertahankan kualitas seperti yang telah dikesankan. Hufft... Ribet memang jika hendak bertingkah laku yang pantas. Apalagi jika pada dasarnya kebiasaan baik tersebut jarang terlatih dan bukan merupakan tingkah laku yang otomatis muncul. Tapi mohon jangan disamaratakan dengan kemunafikan atau lakon penjilat. Ini lebih mengacu pada kebiasaan baik dan bersikap yang semestinya. Hanya saja intensitasnya lebih banyak dilatih dan dibiasakan sedemikian rupa. Sampai di situ.
Mengenal dan dikenal manusia dilakukan dengan seribu satu cara. Kita mencari perhatian kekasih, mempertunjukkan kemampuan di hadapan kolega, sok kenal sok dekat sok akrab pada orang baru dan lainnya. Kita saling berusaha mengenali siapa orang di sekitar kita. Cara yang lazim belakangan ini adalah dengan saling menambah teman di jejaring sosial, mengamati perilaku dan kebiasaan yang dilakukan dan sebagainya. Sisi yang tidak boleh dilupakan berikutnya adalah tentang 'dikenal'. Sebuah kutipan pernah bilang, 'Tidak penting berapa banyak orang yang kamu kenal, tidak menjadi masalah berapa banyak temanmu, namun yang patut diperhatikan adalah bagaimana kamu dikenal oleh mereka'. Dikenal berarti menunjukkan relasi yang interaktif. Dua arah dan saling terbuka. Dikenal berarti siap membuka diri untuk diterima apa adanya, atau ditolak. Dikenal oleh manusia kadang-kadang menggeser batas objektivitas dan menggaris ulang sebuah area baru bernama toleransi dan penerimaan.
Interaksi dua hal terkait ini saling melengkapi untuk menciptakan hubungan yang sehat. Saling mengenal dan dikenal oleh manusia itu penting dan kadang membutuhkan proses seumur hidup. Kepribadian, pola pikir, cara merespon, tindakan dan reaksi manusia begitu dalam dan begitu kompleks perbedaannya antar satu sama lain. Saya rasa mengenal dan dikenal manusia itu adalah satu hal yang penting pula. Namun hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana manusia mengenal dan dikenal oleh PenciptaNya. Mengenal kehendakNya, apa yang Ia mau kita lakukan di kehidupan yang singkat ini, misi seperti apa yang Ia ingin kita tunaikan dan lainnya. Dikenal olehNya berarti manusia yang hina ini pun disadari secara pribadi sebagai satu keutuhan yang tak lengkap tanpa Dia. Membangun relasi yang jauh lebih intim. Jika Dia mengenal kita, hal apalagi di bumi ini yang perlu dikhawatirkan? Faktanya, Dia tak sekedar tahu nama kita, Dia mengenal dan mengetahui diri ini jauh lebih baik dari kita mengenal diri kita sendiri. Ahh... Dengan dikenal oleh Sang Khalik, tentunya hidup damai dan akses terhadap kediaman yang tak pernah sirna tidak hanya sebatas harapan kosong belaka.
Katanya, dengan mengenal diri sendiri, kita akan semakin mengenal Sang Pencipta. Dengan mengenal orang lain, kita mendapatkan kepingan lainnya bagaimana Dia menciptakan segala sesuatu unik dan berbeda. Obrolan lanjut mengalir, dua sahabat ini lalu melanjutkan kelakar malam dengan beberapa topik berkesinambungan sampai mulut menguap dan mata jadi berat. Penting? Tidak juga, sih. Namanya juga sekedar kelakar tengah malam. Namun inilah kami, cuma sekedar manusia yang terbatas, kami berusaha saling mengenal dan dikenal.
Sampai pada satu poin tentang mengenal dan dikenal. Saya mengungkapkan kalau saya punya kegelisahan ambisius tentang jika tidak dikenal oleh sekelompok oknum. Rasanya saya akan mengerahkan segenap usaha, agar jangan sampai satu periode lewat tanpa nama saya berhasil diketahui oleh sang berwenang. Karena menurut prinsip saya, dengan pengenalan, komunikasi akan lebih berlangsung secara lancar, perbedaan dapat diminimalkan dan segala pintu seolah terbuka. Cuma yang tak kalah pentingnya, adalah konsistensi setelah impresi tersebut. Bagaimana menjalin hubungan sesudah dikenal dan tetap menjaga 'image' dan mempertahankan kualitas seperti yang telah dikesankan. Hufft... Ribet memang jika hendak bertingkah laku yang pantas. Apalagi jika pada dasarnya kebiasaan baik tersebut jarang terlatih dan bukan merupakan tingkah laku yang otomatis muncul. Tapi mohon jangan disamaratakan dengan kemunafikan atau lakon penjilat. Ini lebih mengacu pada kebiasaan baik dan bersikap yang semestinya. Hanya saja intensitasnya lebih banyak dilatih dan dibiasakan sedemikian rupa. Sampai di situ.
Mengenal dan dikenal manusia dilakukan dengan seribu satu cara. Kita mencari perhatian kekasih, mempertunjukkan kemampuan di hadapan kolega, sok kenal sok dekat sok akrab pada orang baru dan lainnya. Kita saling berusaha mengenali siapa orang di sekitar kita. Cara yang lazim belakangan ini adalah dengan saling menambah teman di jejaring sosial, mengamati perilaku dan kebiasaan yang dilakukan dan sebagainya. Sisi yang tidak boleh dilupakan berikutnya adalah tentang 'dikenal'. Sebuah kutipan pernah bilang, 'Tidak penting berapa banyak orang yang kamu kenal, tidak menjadi masalah berapa banyak temanmu, namun yang patut diperhatikan adalah bagaimana kamu dikenal oleh mereka'. Dikenal berarti menunjukkan relasi yang interaktif. Dua arah dan saling terbuka. Dikenal berarti siap membuka diri untuk diterima apa adanya, atau ditolak. Dikenal oleh manusia kadang-kadang menggeser batas objektivitas dan menggaris ulang sebuah area baru bernama toleransi dan penerimaan.
Interaksi dua hal terkait ini saling melengkapi untuk menciptakan hubungan yang sehat. Saling mengenal dan dikenal oleh manusia itu penting dan kadang membutuhkan proses seumur hidup. Kepribadian, pola pikir, cara merespon, tindakan dan reaksi manusia begitu dalam dan begitu kompleks perbedaannya antar satu sama lain. Saya rasa mengenal dan dikenal manusia itu adalah satu hal yang penting pula. Namun hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana manusia mengenal dan dikenal oleh PenciptaNya. Mengenal kehendakNya, apa yang Ia mau kita lakukan di kehidupan yang singkat ini, misi seperti apa yang Ia ingin kita tunaikan dan lainnya. Dikenal olehNya berarti manusia yang hina ini pun disadari secara pribadi sebagai satu keutuhan yang tak lengkap tanpa Dia. Membangun relasi yang jauh lebih intim. Jika Dia mengenal kita, hal apalagi di bumi ini yang perlu dikhawatirkan? Faktanya, Dia tak sekedar tahu nama kita, Dia mengenal dan mengetahui diri ini jauh lebih baik dari kita mengenal diri kita sendiri. Ahh... Dengan dikenal oleh Sang Khalik, tentunya hidup damai dan akses terhadap kediaman yang tak pernah sirna tidak hanya sebatas harapan kosong belaka.
Katanya, dengan mengenal diri sendiri, kita akan semakin mengenal Sang Pencipta. Dengan mengenal orang lain, kita mendapatkan kepingan lainnya bagaimana Dia menciptakan segala sesuatu unik dan berbeda. Obrolan lanjut mengalir, dua sahabat ini lalu melanjutkan kelakar malam dengan beberapa topik berkesinambungan sampai mulut menguap dan mata jadi berat. Penting? Tidak juga, sih. Namanya juga sekedar kelakar tengah malam. Namun inilah kami, cuma sekedar manusia yang terbatas, kami berusaha saling mengenal dan dikenal.
Mei 23, 2011
Repooblyq Qdjy

Satu lagi 'perusak' bahasa Indonesia yang baik dan benar. Belum selesai fenomena alay yang menggabungkan aksara dengan angka di negeri ini, saya menemukan sekelompok orang-orang iseng yang menggarap dengan serius kegerakan satu republik yang menamai dirinya Repooblyq Qdjy (baca: Republik Keji). Jadi, beberapa huruf konsonan yang menyusun satu kata, diganti dengan aksara lain yang berbunyi sama, namun tak lazim digunakan. Terlepas dari rusaknya segala tata-bahasa dan gramatikal, saya pikir saya akan bergabung di pihak mereka. Ide yang terlalu brilian dan terlalu iseng untuk dibiarkan begitu saja. Karena seperti semboyan negeri ini: YNY ADALACH TERROR MOCHON DYANGGAP XERYOOSH! Salut lah!
Cek The Epik Language Translatornya disini
PS: HERY QOORNYAUAN <--NAMA XAIA QALAOO DY-QDJY-QAN DJADY QAIAQ HYNY. ASYQ DJOOHA IACH!
Mei 11, 2011
S.O.S



Setelah lama hibernasi bikin komik, saya iseng coret-coret lagi untuk karakter baru. Masih terinspirasi dengan bentuk wayang tapi ingin dibuat lebih simple dan lebih ekspresif untuk anak-anak. Kesempatan untuk memperkenalkan mereka muncul dengan publikasi retreat komisi remaja ini. Sampai sekarang masih bingung mau dikasih nama apa. Yang ada dalam benak saya tentang nama anak Indonesia yang sederhana tapi punya makna. Mungkin Galih dan Ratna yang romantis; atau Warsito dan Juminten yang bersahaja, atau ..entahlah, belum terpikir saja nama yang cocok. Tapi satu yang pasti, monyet itu namanya Tenyom! Hehehe!
Ini Publikasi untuk flyer retreat. Kalau dari targetnya sih cenderung ke komisi Remaja dan Komisi Pemuda, ternyata oh ternyata, kata si Ce Susy, malah Ibu-ibu nemuin dia buat ngedaftarin anak sekolah minggu buat ikutan retreat ini. Hahaha! Ternyata desain saya terlalu kekanak-kanakan. Salah juga ga banyak survey sih.
Sketsa dikerjakan dengan pensil di kertas A3. Setelah ditebalkan dengan marker dan drawing pen 0.3, lalu diScan dan diwarnai di Photoshop CS3. Setelah selesai, baru dimasukkan teks lewat Adobe Illustrator CS3 sekalian bungkus jadi PDF siap cetak.
Langgan:
Entri (Atom)



















